Tokito Oda Pertahankan Gelar Wimbledon: Petenis Kursi Roda Jepang Makin Dominan
Baca dalam 60 detik
- Unggulan pertama asal Jepang, Tokito Oda, menundukkan Alfie Hewett 6-1, 6-1 di final tunggal putra kursi roda Wimbledon 2026.
- Kemenangan ini menandai gelar ketiga Oda di All England Club dan kesepuluh Grand Slam tunggal sepanjang kariernya.
- Sukses Oda melengkapi dominasi Jepang di nomor kursi roda Wimbledon setelah Yui Kamiji merebut gelar tunggal putri sehari sebelumnya.

Petenis kursi roda Jepang, Tokito Oda, kembali menunjukkan taringnya di Wimbledon. Unggulan pertama itu sukses mempertahankan gelar juara tunggal putra setelah mengalahkan lawannya asal Inggris, Alfie Hewett, dengan skor telak 6-1, 6-1 pada laga final yang berlangsung Minggu (13/7).
Kemenangan ini menjadi pencapaian ketiga Oda di All England Club dan gelar Grand Slam kesepuluh dalam kariernya. Di usia 20 tahun, Oda sudah mengoleksi sederet prestasi gemilang yang membuatnya disejajarkan dengan legenda tenis kursi roda dunia. โSaya merasa luar biasa,โ ujar Oda usai pertandingan. โSaat pertama kali menang di sini, saya masih 17 tahun. Saya belum paham betapa istimewanya tempat ini. Tiga tahun berlalu, setiap kali datang ke sini saya bermain dengan kebanggaan dan kesenangan.โ
Menariknya, Oda tampil dengan kursi roda serba putih yang dirancang khusus, selaras dengan aturan pakaian putih Wimbledon. โSaya selalu berpikir ingin mencoba kursi roda putih karena semua orang punya kursi roda keren. Dan di sini semua orang berpakaian putih,โ katanya. Detail ini menambah kesan elegan sekaligus menegaskan identitasnya di lapangan.
Keberhasilan Oda melengkapi dominasi Jepang di nomor kursi roda Wimbledon tahun ini. Sehari sebelumnya, Yui Kamiji sukses merebut gelar tunggal putri perdananya di Wimbledon. Kemenangan itu membuat Kamiji, yang kini berusia 32 tahun, menyelesaikan Golden Slam karierโmemenangkan seluruh empat Grand Slam dan medali emas Paralimpiade. Kamiji juga menambah gelar ganda putri bersama Zhu Zhenzhen dari China pada hari yang sama, mengalahkan pasangan China lainnya, Li Xiaohui dan Wang Ziying, dengan skor 6-4, 7-5.
Di nomor ganda putra, Oda yang berpasangan dengan Gustavo Fernandez dari Argentina harus mengakui keunggulan unggulan pertama asal Inggris, Hewett dan Gordon Reid, dengan skor 2-6, 6-1, 6-2 pada Sabtu. Meski kalah, pencapaian Oda di tunggal tetap menjadi sorotan utama.
Prestasi Oda dan Kamiji menjadi inspirasi bagi atlet kursi roda di Asia, termasuk Indonesia. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan tenis kursi roda nasional, yang masih minim prestasi di level internasional. Dengan dukungan pembinaan yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia kelak memiliki atlet yang mampu bersaing di panggung Grand Slam.
Ke depan, tantangan Oda adalah mempertahankan konsistensi di tengah persaingan yang semakin ketat. Hewett, yang kini menjadi rival utamanya, pasti akan bangkit. Namun dengan usia yang masih muda dan mental juara, Oda berpotensi menambah koleksi gelarnya di turnamen-turnamen mendatang. Akankah ia mampu menyamai rekor legenda seperti Shingo Kunieda?



