Banjir Bandang Bangladesh Tewaskan 51 Orang, Lebih Sejuta Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras seminggu terakhir memicu banjir dan tanah longsor di Bangladesh, menewaskan sedikitnya 51 orang dan mempengaruhi lebih dari satu juta jiwa.
- Korban terbanyak terkonsentrasi di Cox's Bazar, kawasan yang menampung lebih dari satu juta pengungsi Rohingya, memperparah kerentanan mereka.
- Ahli memperingatkan perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan, sementara sistem drainase di Dhaka dipertanyakan setelah banjir melumpuhkan ibu kota.

Banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan deras yang mengguyur Bangladesh selama lebih dari seminggu telah menewaskan sedikitnya 51 orang dan mempengaruhi lebih dari satu juta penduduk, menjadikannya salah satu bencana musiman paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Otoritas setempat melaporkan bahwa lebih dari separuh korban jiwa berada di Distrik Cox's Bazar, wilayah pesisir yang juga menjadi rumah bagi lebih dari satu juta pengungsi Rohingya—komunitas pengungsi terbesar di dunia. Insiden tragis terjadi pekan lalu ketika banjir menerjang sebuah sekolah di distrik tersebut, menewaskan beberapa siswa dan seorang guru.
Di ibu kota Dhaka, genangan air setinggi lutut melumpuhkan lalu lintas dan aktivitas warga. Media lokal mempertanyakan upaya pemerintah sebelumnya dalam memperbaiki sistem drainase kota yang dinilai tidak mampu menampung debit air hujan yang ekstrem. Ribuan warga kini mengungsi di tempat penampungan yang disediakan pemerintah.
Bangladesh, negara dataran rendah dengan jaringan sungai yang padat, memang kerap dilanda banjir muson setiap tahun. Namun, para ahli menegaskan bahwa perubahan iklim telah membuat curah hujan semakin ekstrem dan tidak terduga. Sarder Udoy Raihan dari Pusat Prakiraan dan Peringatan Banjir Bangladesh menyatakan bahwa situasi di tenggara diperkirakan membaik dalam waktu dekat, tetapi wilayah timur laut dan utara masih berpotensi mengalami banjir susulan akibat muson yang masih aktif.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan dan dataran rendah terhadap dampak perubahan iklim. Sistem peringatan dini dan infrastruktur drainase yang memadai menjadi krusial, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang juga kerap dilanda banjir. Pengalaman Bangladesh menunjukkan bahwa selain faktor alam, tata kelola perkotaan dan kesiapsiagaan bencana menentukan sejauh mana korban jiwa dan kerugian dapat ditekan.
Pemerintah Bangladesh telah mengeluarkan peringatan dini, mengevakuasi keluarga di zona berisiko tinggi, dan menunda ujian sekolah. Namun, dengan jumlah korban yang terus bertambah, pertanyaan mengenai efektivitas mitigasi jangka panjang—termasuk pengelolaan daerah aliran sungai dan pemukiman di bantaran sungai—kembali mengemuka. Akankah Bangladesh mampu beradaptasi dengan cepat sebelum muson berikutnya tiba?



