Angola Akui Yuan sebagai Cadangan Bank, Sinyal Dedolarisasi Kian Nyata
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral Angola resmi memasukkan yuan China ke dalam daftar mata uang yang sah untuk memenuhi kewajiban cadangan perbankan, bergabung dengan dolar AS, euro, dan rand Afrika Selatan.
- Langkah ini merupakan bagian dari tren dedolarisasi di negara berkembang, didorong oleh risiko sanksi AS dan menguatnya hubungan dagang dengan China.
- Keputusan Angola berpotensi mendorong negara lain di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan diversifikasi cadangan devisa.

Bank sentral Angola secara resmi mengizinkan yuan China digunakan sebagai salah satu instrumen pemenuhan kewajiban dana cadangan perbankan, langkah yang menandai pergeseran signifikan dalam lanskap keuangan global. Kebijakan ini sekaligus memperkuat sinyal bahwa sejumlah negara berkembang mulai serius mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.
Dalam pengumuman yang dikutip dari Reuters, Minggu (12/7/2026), Banco Nacional de Angola (BNA) memasukkan yuan ke dalam daftar mata uang yang dapat dijadikan sebagai reserve requirement atau dana cadangan wajib. Sebelumnya, hanya dolar AS, euro, dan rand Afrika Selatan yang diakui. Cadangan wajib adalah dana yang harus disetor bank komersial ke bank sentral untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mengelola likuiditas.
Keputusan ini tidak muncul di ruang hampa. Angola merupakan salah satu produsen minyak terbesar di Afrika dan mitra dagang utama China. Hubungan bilateral yang erat—Angola pemasok minyak mentah utama bagi China, sementara Beijing mengucurkan pinjaman miliaran dolar untuk infrastruktur—menjadi latar belakang logis di balik langkah tersebut. Bagi Angola, diversifikasi cadangan mata uang juga menjadi bantalan terhadap volatilitas dolar dan risiko sanksi ekonomi AS.
Fenomena dedolarisasi sendiri bukanlah hal baru, tetapi intensitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Risiko pembekuan aset akibat sanksi, biaya transaksi lintas negara yang tinggi, serta keinginan untuk mencerminkan perubahan peta kekuatan ekonomi global menjadi pendorong utama. Negara-negara seperti Rusia, China, dan sejumlah anggota BRICS telah aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.
Bagi Indonesia, langkah Angola ini relevan untuk dicermati. Sebagai negara dengan cadangan devisa yang besar dan hubungan dagang yang kuat dengan China, Indonesia juga mulai menjajaki kerja sama mata uang lokal (local currency settlement/LCS) dengan beberapa mitra, termasuk China. Namun, hingga saat ini, Bank Indonesia belum mengakui yuan sebagai alat pembayaran yang sah untuk cadangan devisa, meskipun volume perdagangan bilateral terus meningkat.
Menurut analis ekonomi dari Universitas Indonesia, langkah Angola bisa menjadi preseden bagi negara-negara Afrika lainnya, dan bahkan Asia, untuk mengikuti jejak serupa. “Ini adalah langkah pragmatis. Ketika mitra dagang utama Anda adalah China, masuk akal untuk memiliki yuan sebagai cadangan. Namun, dampaknya terhadap dominasi dolar masih terbatas dalam jangka pendek,” ujarnya.
Meski demikian, dolar AS masih mendominasi cadangan devisa global dan transaksi perdagangan internasional. Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan porsi dolar dalam cadangan devisa global masih di atas 58% pada akhir 2025, meskipun trennya menurun. Yuan, di sisi lain, baru sekitar 2,5%—jauh di bawah euro dan yen Jepang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah Angola akan diikuti oleh negara-negara penghasil komoditas lain, seperti Nigeria atau Indonesia sendiri. Jika ya, maka perlahan-lahan arsitektur keuangan global yang selama ini berpusat pada dolar akan mengalami perubahan yang lebih fundamental.



