Pilkada Johor: Petahana 65 Tahun Kalahkan Calon Muda, DAP 28 Tahun Menang Telak
Baca dalam 60 detik
- Datuk Samsolbari Jamali (65) dari Barisan Nasional mempertahankan kursi Semarang untuk keenam kalinya dengan mayoritas 14.679 suara.
- Felicia Poh Rui Ling (28) dari DAP menjadi pemenang termuda setelah merebut kursi Penggaram dengan 4.137 suara unggul dari lawannya yang berusia 65 tahun.
- Kontras usia kandidat—dari 23 hingga 73 tahun—mencerminkan dinamika politik Johor yang memadukan pengalaman dan regenerasi.

Pemilihan negara bagian Johor ke-16 mencatat fenomena unik: kandidat tertua dan termuda yang berhasil terpilih sama-sama menunjukkan dominasi di dapil masing-masing. Datuk Samsolbari Jamali, 65 tahun, mempertahankan kursi Semarang untuk periode keenam berturut-turut, sementara Felicia Poh Rui Ling, 28 tahun, merebut kursi Penggaram dengan suara meyakinkan.
Samsolbari, yang juga ketua Umno divisi Ayer Hitam, mengalahkan dua lawannya—Muhammad Syafiq Abdul Aziz dari Perikatan Nasional dan Ramli Abd Hamid dari Pakatan Harapan—dengan perolehan suara 14.679. Dua pesaingnya hanya meraih 2.695 dan 2.205 suara. Kemenangan ini memperkuat posisinya sebagai politisi senior yang tak tergoyahkan di Semarang sejak pertama kali menang pada 2004.
Di sisi lain, kemenangan Felicia Poh menandai kepercayaan pemilih terhadap kepemimpinan muda. Kader DAP berusia 28 tahun itu mengumpulkan 24.522 suara, mengalahkan calon Barisan Nasional Boo Chin Leong (65) yang memperoleh 20.385 suara. Dengan mayoritas 4.137 suara, Poh berhasil mempertahankan kursi Penggaram untuk Pakatan setelah petahana Gan Peck Cheng memilih tidak maju kembali.
Penggaram, yang memiliki 70.294 pemilih terdaftar, merupakan salah satu dari tiga konstituensi negara bagian di bawah kursi parlemen Batu Pahat. Kemenangan ini memastikan warna politik daerah tersebut tetap berada di bawah koalisi Pakatan Harapan.
Kontras usia antara Samsolbari dan Poh mencerminkan spektrum politik Johor yang luas. Sementara Samsolbari mewakili stabilitas dan pengalaman, Poh menjadi simbol harapan baru bagi pemilih muda. Fenomena ini juga terlihat dari kandidat termuda, Danish Hossman (23), dan tertua, Roland Lim (73), yang meski tidak menang, menunjukkan partisipasi lintas generasi.
Bagi Indonesia, dinamika Pilkada Johor menarik dicermati karena provinsi tetangga ini memiliki kemiripan demografis dengan beberapa daerah di Sumatera. Dominasi petahana senior dan munculnya wajah muda bisa menjadi pelajaran tentang keseimbangan antara pengalaman dan regenerasi dalam demokrasi lokal. Ke depan, apakah tren kandidat muda seperti Poh akan terus meningkat atau justru stagnan? Jawabannya bergantung pada konsistensi elektoral dan dukungan partai terhadap kader milenial.



