Topan Bavi Mengancam China Timur: Evakuasi Massal di Tengah Bencana Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Ratusan ribu warga China timur dievakuasi saat Topan Bavi, selebar Perancis, mendekati daratan setelah sebelumnya menerjang Jepang dan Taiwan.
- Bencana ini terjadi hanya beberapa hari setelah Topan Maysak menewaskan 39 orang dan memicu tornado langka di China selatan.
- Ancaman utama Bavi bukan pada kekuatan angin, melainkan volume uap air raksasa yang berpotensi memicu banjir bandang dan longsor.

Ratusan ribu penduduk di pesisir timur China terpaksa meninggalkan rumah mereka saat Topan Bavi, siklon tropis raksasa dengan lebar mencapai 1.000 kilometer, bersiap menerjang daratan Minggu pagi waktu setempat. Ini menjadi badai kedua dalam sepekan yang melanda kawasan tersebut, menyusul Topan Maysak yang pekan lalu menewaskan puluhan orang dan memicu kerusakan parah.
Bavi, yang sempat menjadi super topan dengan kecepatan angin 290 km/jam saat menerjang Guam dan Kepulauan Mariana Utara, kini melemah menjadi kategori 1. Meski demikian, otoritas China tetap waspada karena badai ini membawa kandungan uap air luar biasa besar yang dapat memicu hujan ekstrem. Badan meteorologi setempat memperkirakan curah hujan "sangat deras" di Provinsi Zhejiang bagian timur dan Fujian timur laut, dua wilayah yang menjadi pusat perhatian evakuasi.
Kota Wenzhou, dengan populasi sekitar 10 juta jiwa, berada di jalur lintasan topan. Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan darurat dan memobilisasi tim penyelamat. Evakuasi dilakukan secara preventif untuk mengantisipasi skenario terburuk, termasuk potensi banjir bandang dan longsor di daerah perbukitan. Penerbangan dibatalkan massal, sekolah diliburkan, dan warga beramai-ramai memborong kebutuhan pokok di supermarket.
Sebelum mencapai China, Bavi telah melanda Kepulauan Sakishima Jepang, melukai sedikitnya lima orang dan memutus aliran listrik bagi ribuan rumah. Taiwan, meski tidak terkena pukulan langsung, tetap merasakan dampak berupa hujan deras yang memicu peringatan longsor. Ribuan warga Taiwan juga dievakuasi, namun hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa di kedua wilayah tersebut. Sebelumnya, di Filipina, longsor yang dipicu oleh badai yang sama menewaskan 17 orang.
Bagi Indonesia, meski tidak berada di jalur langsung topan, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di kawasan Asia Timur dan Pasifik Barat perlu dicermati oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai referensi dalam memprediksi potensi siklon tropis yang mungkin memengaruhi wilayah Indonesia. Selain itu, dampak tidak langsung seperti gangguan rantai pasok logistik dan kenaikan harga komoditas akibat gagal panen di China selatan patut diwaspadai oleh pelaku usaha nasional.
Topan Bavi datang hanya beberapa hari setelah Topan Maysak meluluhlantakkan sebagian China selatan. Maysak menewaskan sedikitnya 39 orang, memusnahkan ternak dalam jumlah besar, serta memicu dua tornado langka di Provinsi Hubei. Kerugian sektor pertanian diperkirakan sangat besar. Dengan dua badai berturut-turut, pemerintah China kini menghadapi tekanan ganda: menyelamatkan jiwa dan memulihkan ekonomi daerah terdampak. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah infrastruktur mitigasi bencana China mampu menahan laju frekuensi dan intensitas badai yang terus meningkat akibat perubahan iklim.



