Rencana Perumahan di Hutan Kota Singapura: Antara Kebutuhan Hunian dan Kelestarian Lingkungan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura berencana membuka lahan hutan sekunder seluas 15 hektare di Sunset Way dan 10 hektare di Gillman Barracks untuk perumahan baru.
- Kelompok pegiat lingkungan menilai mitigasi yang diusulkan belum cukup untuk mencegah kerusakan ekosistem dan fragmentasi habitat satwa liar.
- Konsultasi publik hingga 6 Agustus mendatang akan menentukan sejauh mana rencana pembangunan dapat diimbangi dengan upaya konservasi.

Pembangunan perumahan di dua kawasan hijau Singapura, Sunset Way dan Gillman Barracks, memicu kekhawatiran kelompok pecinta alam. Mereka menilai rencana pembukaan lahan hutan sekunder seluas total sekitar 25 hektare itu berpotensi mengancam keanekaragaman hayati yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
Housing and Development Board (HDB) Singapura mengumumkan pada 10 Juli lalu bahwa dua lokasi tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan hunian. Keputusan ini diambil setelah kajian lingkungan dan warisan budaya selesai dilakukan. Namun, sejumlah organisasi lingkungan seperti Nature Society Singapore (NSS) dan LepakInSG menilai langkah mitigasi yang direncanakan belum cukup untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Sunset Way berada di dalam kawasan Maju Forest, hutan sekunder yang tumbuh di atas bekas rel kereta api Jurong yang sudah tidak beroperasi selama lebih dari tiga dekade. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai spesies, termasuk burung bulbul berkepala jerami yang statusnya kritis. Kajian lingkungan mencatat adanya lima tipe habitat di area tersebut, termasuk hutan sekunder dominan asli seluas 4,7 hektare dan hampir 10 hektare hutan lahan terbengkalai.
Menurut Leong Kwok Peng, presiden NSS, hutan sekunder seperti Maju Forest sangat langka dan tidak bisa digantikan jika ditebang. โButuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh kembali,โ ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa penyusutan luas hutan akan memaksa satwa keluar dan meningkatkan risiko tertabrak kendaraan.
Sementara itu, Ho Xiang Tian dari LepakInSG menyoroti pentingnya menjaga konektivitas ekologis. Ia mencontohkan keberadaan pohon pala di dalam Maju Forest sebagai indikasi bahwa hutan tersebut masih terhubung dengan Cagar Alam Bukit Timah hingga Southern Ridges. โJika hutan ini menyusut, fungsinya sebagai habitat akan berubah menjadi sekadar koridor pergerakan satwa,โ katanya. Ia juga mengkritik rencana penggiringan satwa ke area hijau lain karena hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Di Gillman Barracks, kajian menunjukkan bahwa dampak pembangunan terhadap habitat dan sumber makanan satwa bisa berkisar dari โtidak ada perubahanโ hingga โnegatif besarโ selama fase konstruksi, bahkan setelah mitigasi. Lester Tan dari NSS menilai langkah pemerintah mempertahankan hutan dominan asli dan koridor sempit dari utara ke selatan adalah kabar baik, namun ia mendorong pelebaran koridor jika memungkinkan.
HDB menyatakan akan mempertimbangkan masukan publik sebelum memutuskan langkah mitigasi final. National Parks Board (NParks) akan meninjau rencana pengelolaan lingkungan sebelum pekerjaan dimulai. Pertanyaannya, akankah suara pegiat lingkungan cukup kuat untuk mengubah arah pembangunan, atau kebutuhan hunian akan tetap menjadi prioritas utama?



