Pernikahan di Singapura Anjlok 6,2% pada 2025, Angka Perceraian Justru Menurun
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pernikahan di Singapura turun ke level terendah sejak 2020, dengan penurunan terbesar pada kelompok usia 25-34 tahun.
- Meski angka pernikahan menurun, kualitas pernikahan justru meningkat: 95% pasangan mengaku bahagia dan tingkat perceraian turun 1,9%.
- Pemerintah Singapura membentuk gugus tugas khusus untuk mengatasi faktor penghambat pernikahan dan pengasuhan anak, dengan laporan final dijadwalkan pada awal 2027.

Jumlah pernikahan di Singapura pada 2025 tercatat hanya 24.688 pasangan, turun 6,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 26.328. Angka ini merupakan yang terendah sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020, ketika hanya 22.651 pasangan yang menikah. Penurunan terjadi untuk tahun ketiga berturut-turut, menandai tren yang mengkhawatirkan bagi negara kota dengan tingkat kesuburan yang sudah sangat rendah.
Data dari Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga (MSF) menunjukkan bahwa penurunan paling tajam terjadi pada kelompok usia 25-34 tahun, baik untuk pernikahan sipil maupun muslim. Juru bicara MSF menjelaskan bahwa fenomena ini sejalan dengan perubahan norma sosial dan prioritas pribadi, di mana banyak anak muda menunda pernikahan demi mengejar pendidikan dan karier. Rata-rata usia pertama menikah pun meningkat: untuk pria menjadi 31,1 tahun dan wanita 29,6 tahun pada 2025, naik signifikan dibandingkan satu dekade lalu.
Di sisi lain, kualitas pernikahan justru menunjukkan perbaikan. Survei MSF pada 2025 menemukan bahwa 95% responden yang menikah merasa bahagia dengan pernikahan mereka, dan 92,8% menilai hubungan mereka berjalan baik. Hanya 11,7% yang pernah mempertimbangkan perceraian. Angka perceraian juga turun tipis 1,9% menjadi 7.242 kasus, dengan median usia bercerai yang terus meningkat, menunjukkan bahwa pasangan yang bertahan cenderung lebih matang secara usia.
Fenomena menunda pernikahan juga berdampak pada usia menjadi orang tua. Rata-rata usia ibu pertama kali naik menjadi 32,1 tahun, sementara ayah pertama kali 33,8 tahun. Tingkat kesuburan total (TFR) Singapura tetap stagnan di angka 0,87, jauh di bawah level replacement 2,1. Proporsi wanita berusia 40-49 tahun yang tidak memiliki anak meningkat dari 11,6% pada 2015 menjadi 16,1% pada 2025. Meski demikian, jumlah anak ideal yang paling umum tetap dua orang, meski porsinya sedikit menurun.
Pemerintah Singapura merespons dengan membentuk Gugus Tugas Reset Pernikahan dan Pengasuhan Anak (Marriage and Parenthood Reset Workgroup) yang bersifat interkementerian. Kelompok ini akan mengkaji faktor-faktor seperti biaya hidup, dukungan karier, perumahan, dan pendidikan anak. Laporan lengkap dijadwalkan rilis pada awal 2027. Menteri MSF Masagos Zulkifli menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga lintas generasi.
Dari sisi infrastruktur, akses terhadap layanan anak usia dini terus membaik. Jumlah tempat penitipan bayi penuh waktu hampir tiga kali lipat dalam satu dekade, mencapai 17.639 pada 2025. Biaya penitipan anak juga turun: untuk penitipan bayi, pengeluaran rumah tangga berpenghasilan menengah kini hanya 5,6% dari pendapatan, turun dari 6,8% pada 2021. Angka partisipasi anak usia 3-4 tahun di pendidikan anak usia dini melonjak dari 73% pada 2015 menjadi 91% pada 2025.
Namun, tantangan baru muncul dari sisi perawatan lansia. Jumlah penduduk berusia 65+ yang tinggal di rumah meningkat menjadi 768.800, dengan 88.400 di antaranya tinggal sendiri. Survei juga menemukan bahwa meski 90% responden bersedia memberikan dukungan finansial dan emosional, proporsi yang bersedia memberikan dukungan fisik rutin justru menurun dari 81,4% menjadi 73,8%. Studi Kualitas Hidup NCSS 2025 menunjukkan bahwa pengasuh (caregiver) memiliki kualitas hidup lebih rendah di semua domain dibandingkan non-pengasuh.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah kebijakan baru Singapura membalikkan tren penurunan pernikahan dan kesuburan, ataukah perubahan sosial yang lebih dalam akan terus mendorong angka-angka ini semakin rendah? Dengan laporan gugus tugas baru yang baru akan keluar dua tahun lagi, tekanan pada keluarga muda dan lansia diperkirakan akan terus menjadi isu sentral dalam kebijakan sosial Singapura.



