Super El Nino 2023: Ancaman Kenaikan Harga Pangan Global hingga 30%
Baca dalam 60 detik
- NOAA memperkirakan 81% kemungkinan Super El Nino terjadi pada Oktober-Desember 2023, berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.
- Peneliti Jepang memperingatkan kenaikan harga pangan global hingga 13% pada 2027 akibat penurunan produksi pertanian, dan bisa mencapai 20-30% jika ditambah kenaikan harga minyak.
- Dampak tidak langsung seperti kekeringan di China dan Asia Tenggara dapat mengganggu rantai pasok dan perekonomian Jepang, serta berimplikasi pada Indonesia sebagai negara agraris dan importir pangan.

Fenomena El Nino yang diprediksi berkembang menjadi "Super El Nino" pada akhir tahun ini mengancam stabilitas harga pangan global. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada 9 Juli lalu mengumumkan probabilitas 81% terjadinya Super El Nino antara Oktober dan Desember 2023, sebuah skenario yang dapat memicu kenaikan harga pangan hingga dua digit.
Super El Nino ditandai dengan suhu permukaan laut yang sangat tinggi di kawasan Peru hingga Pasifik barat. Kondisi ini memicu kekeringan di sejumlah wilayah produsen pangan utama, menurunkan hasil panen, dan meningkatkan serangan hama serta penyakit tanaman. Japan Research Institute memperkirakan penurunan produksi pertanian global akibat fenomena ini bisa mendorong harga pangan naik 13% secara tahunan pada 2027. Namun, Hiromu Komiya, peneliti di lembaga tersebut, mengingatkan bahwa jika dikombinasikan dengan harga minyak yang tetap tinggi akibat ketegangan di Timur Tengah, kenaikan bisa mencapai 20% hingga 30%.
Perbandingan dengan Super El Nino sebelumnya menunjukkan perbedaan signifikan. Pada 2015-2016, tekanan inflasi dari El Nino dapat diimbangi oleh harga minyak mentah yang rendah. Kini, harga minyak yang tinggi justru memperparah dampak. Toshichika Iizumi, peneliti senior di Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Nasional Jepang, menekankan bahwa setiap El Nino memiliki kekuatan dan durasi berbeda, sehingga prediksi harus mempertimbangkan pemanasan global yang sedang berlangsung. "Kita perlu memprediksi suhu dan curah hujan sambil memperhitungkan perubahan iklim, lalu menilai dampaknya terhadap produksi tanaman," ujarnya.
Dampak tidak langsung juga patut diwaspadai. Di China dan negara-negara Asia Tenggara, tempat banyak perusahaan Jepang beroperasi, pembangkit listrik tenaga air menyumbang porsi besar dalam bauran energi. Kekeringan akibat El Nino dapat menyebabkan krisis listrik, mengganggu rantai pasok berbagai produk dan bahan baku. Hal ini berpotensi merugikan perekonomian Jepang yang bergantung pada kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, ancaman ini menjadi alarm tersendiri. Sebagai negara agraris yang juga importir pangan, Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Kenaikan harga beras, gandum, dan kedelai dapat memicu inflasi domestik. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan memperkuat cadangan pangan, diversifikasi sumber impor, serta meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri. Selain itu, risiko gangguan rantai pasok dari China dan Asia Tenggara juga perlu diwaspadai, mengingat ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku dan barang modal dari kawasan tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa siap negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, menghadapi guncangan iklim dan ekonomi yang datang bersamaan. Apakah kebijakan mitigasi yang ada cukup kuat untuk melindungi masyarakat dari lonjakan harga pangan dan gangguan pasokan? Ataukah Super El Nino kali ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan pangan global?



