Rupiah Menguat ke Rp18.045 di Tengah Pelemahan Dolar, Tapi Arus Modal Asing Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,14% ke Rp18.045 per dolar AS pada akhir pekan, membalikkan posisi terlemah dalam sebulan.
- Pelemahan indeks dolar AS dan penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi katalis penguatan, meski ketegangan AS-Iran kembali memanas.
- Ekonom menilai Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing US$8-11 miliar di semester II-2026 untuk menjaga stabilitas rupiah.

Rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan tipis di tengah tekanan global yang masih membayangi. Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar mata uang Garuda ditutup pada level Rp18.045 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/7/2026), terapresiasi 0,14% dari posisi sebelumnya yang merupakan level terlemah dalam sebulan terakhir.
Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang terkoreksi 0,11% ke level 100,788 pada pukul 15.00 WIB. Dolar AS melemah untuk sesi kedua beruntun setelah eskalasi konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Iran dilaporkan melancarkan serangan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk, sebagai balasan atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Situasi ini menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Meski ketegangan Timur Tengah meningkat, harga minyak justru turun dari posisi tertingginya. Minyak mentah AS melemah ke US$71,57 per barel, sementara Brent turun ke US$75,72 per barel. Pelemahan ini terjadi karena pasar mulai mempertimbangkan risiko inflasi yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan global, meskipun kekhawatiran pasokan energi masih ada. Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sentimen pasar terhadap mata uang berbasis komoditas seperti rupiah.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat The Federal Reserve periode 16-17 Juni—yang merupakan rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh—menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat. Sejumlah pejabat bahkan melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga segera. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan 28-29 Juli justru sedikit mereda. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin turun menjadi 26,2% dari 31% pada sesi sebelumnya, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi 18,2% pada pekan lalu. Data klaim awal pengangguran mingguan AS yang turun 2.000 menjadi 215.000—lebih rendah dari perkiraan ekonom—menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih stabil.
Bagi Indonesia, penguatan rupiah ini belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran akan kebutuhan arus modal asing. Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai Indonesia masih membutuhkan tambahan aliran modal asing yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar. "Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," ujarnya dalam catatan, Kamis (9/7/2026). Menurut Fakhrul, Indonesia membutuhkan peningkatan posisi investor asing sekitar US$8-11 miliar pada paruh kedua 2026. Keputusan investor asing akan sangat bergantung pada konsistensi konsolidasi fiskal, normalisasi imbal hasil obligasi pemerintah, serta kepastian arah kebijakan moneter.
Fakhrul menekankan bahwa stabilitas rupiah tidak cukup hanya ditopang intervensi pasar atau pengelolaan likuiditas. Kombinasi fiskal yang kredibel, pasar obligasi yang menarik, dan komunikasi kebijakan yang konsisten menjadi faktor penting untuk mengembalikan minat investor asing. Dengan demikian, meskipun rupiah menguat di akhir pekan, tantangan struktural masih membayangi. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga momentum ini di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi?



