IHSG Hijau di Sesi I, Rupiah Masih Bergelut di Level Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,23% pada sesi pertama perdagangan Jumat (10/7/2026) ke level 5.926.
- Nilai tukar rupiah masih tertekan di kisaran Rp 18.055 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp 18.000 yang menjadi perhatian pelaku pasar.
- Pergerakan pasar keuangan Indonesia menunjukkan divergensi: saham menguat namun rupiah stagnan, mencerminkan sentimen investor yang masih wait and see.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren positif pada sesi pertama perdagangan Jumat (10/7/2026) dengan mencatatkan penguatan 0,23% ke level 5.926, meskipun tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut di kisaran Rp 18.055 per dolar AS. Kondisi ini menggambarkan dinamika pasar keuangan Indonesia yang masih mencari arah di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Penguatan IHSG terjadi di tengah volume perdagangan yang relatif stabil, menunjukkan bahwa investor mulai kembali melirik aset berisiko setelah beberapa pekan terakhir dibayangi aksi jual. Sektor-sektor unggulan seperti infrastruktur dan konsumer menjadi motor penggerak utama indeks. Namun, penguatan ini masih bersifat terbatas dan belum mampu mendorong indeks menembus level resisten 6.000 yang dinantikan pelaku pasar.
Di sisi lain, pergerakan rupiah justru menunjukkan stagnasi. Meskipun sempat menguat tipis di awal sesi, mata uang Garuda kembali tertekan dan bertahan di level Rp 18.055 per dolar AS. Level psikologis Rp 18.000 menjadi garis pertahanan yang krusial; apabila tembus, tekanan terhadap rupiah diprediksi semakin besar. Analis menilai bahwa faktor eksternal seperti penguatan indeks dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi beban utama bagi rupiah.
Konteks domestik turut mempengaruhi pergerakan pasar. Pelaku pasar masih mencermati kebijakan Bank Indonesia yang diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan untuk menstabilkan rupiah. Di sisi lain, data neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus memberikan sedikit ruang bagi optimisme, namun belum cukup untuk mendorong penguatan signifikan rupiah. Investor asing pun tercatat masih melakukan aksi jual bersih di pasar obligasi, menambah tekanan pada nilai tukar.
Ke depan, pergerakan IHSG dan rupiah akan sangat bergantung pada data ekonomi global, terutama inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed akan semakin kuat dan berpotensi memperlemah rupiah lebih lanjut. Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan bisa menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah dan IHSG. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah IHSG bertahan di zona hijau jika rupiah terus tertekan?



