IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Global, Pelaku Pasar Cermati B50 dan Suku Bunga AS
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka naik 0,50% ke 5.942,26 pada Jumat (10/7) dengan 306 saham hijau, didorong oleh pelemahan dolar AS dan penguatan bursa Asia.
- Sentimen negatif masih membayangi, termasuk eskalasi konflik Timur Tengah, peringatan IMF tentang risiko ekonomi global, dan prospek suku bunga tinggi yang berkepanjangan.
- Pelaku pasar dalam negeri fokus pada peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo, sementara data penjualan ritel BI masih menunjukkan kontraksi bulanan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat (10/7/2026) dengan penguatan tipis, mencatatkan kenaikan 29,82 poin atau 0,50% ke level 5.942,26 pada pukul 09.00 WIB. Meski demikian, optimisme pasar masih dibayangi oleh sejumlah sentimen global yang tidak menentu, mulai dari memanasnya kembali konflik di Timur Tengah hingga peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai meningkatnya risiko ekonomi dunia.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 306 saham berada di zona hijau, 90 saham melemah, dan 569 saham stagnan. Nilai transaksi awal mencapai Rp272,6 miliar, melibatkan 360,1 juta saham dalam 150.300 kali transaksi. Angka ini mencerminkan partisipasi pasar yang cukup aktif meskipun volatilitas diperkirakan masih tinggi sepanjang hari.
Di tengah tekanan eksternal, pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) menjadi angin segar bagi nilai tukar rupiah. Pelaku pasar juga mencermati data klaim pengangguran AS yang tetap rendah serta langkah Federal Reserve membentuk gugus tugas untuk mengevaluasi arah kebijakan moneter ke depan. Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto, yang diharapkan dapat mendorong sektor energi terbarukan dan mengurangi impor bahan bakar fosil.
Namun, tidak semua indikator domestik positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa penjualan ritel masih mengalami kontraksi secara bulanan, meskipun terdapat perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, menjadi catatan bagi investor yang mengincar saham sektor konsumsi.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham menguat pada perdagangan pagi ini. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin dengan lonjakan 4,58%, disusul Nikkei Jepang yang naik 2,11%, NZX 50 Selandia Baru menguat 0,88%, Shenzhen Composite bertambah 0,71%, FTSE Bursa Malaysia naik 0,69%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,50%, SGX CNBC China Growth naik 0,49%, ASX 200 Australia menguat 0,32%, dan Shanghai Composite naik 0,25%. Sebaliknya, Straits Times Singapura turun 0,20% dan Taiex Taiwan melemah 0,83%. Penguatan ini terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak, meskipun investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Bagi investor Indonesia, kombinasi antara sentimen global yang volatil dan kebijakan domestik seperti B50 serta data ekonomi makro akan menjadi penentu arah IHSG ke depan. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah IHSG bertahan di zona hijau hingga akhir sesi, atau justru akan tertekan oleh faktor eksternal yang masih belum mereda?



