Naira Menguat di Pasar Resmi Saat Volume Transaksi Anjlok Lebih dari 60%
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira di pasar resmi Nigeria naik ke N1.378 per dolar AS, didorong oleh penurunan tajam volume transaksi antar bank.
- Volume transaksi di NFEM merosot 62% menjadi hanya 78,7 juta dolar AS, tanpa intervensi bank sentral dan jumlah deal berkurang drastis.
- Di pasar paralel, naira justru terdepresiasi ke N1.400 per dolar AS karena permintaan informal yang tinggi, menciptakan disparitas harga.

Naira Nigeria mencatat penguatan tipis di pasar valuta asing resmi pada Kamis, meski aktivitas perdagangan antar bank justru menyusut drastis. Nilai tukar di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM) naik ke N1.378,43 per dolar AS, sedikit lebih baik dari posisi sebelumnya N1.379,07. Namun, penguatan ini lebih disebabkan oleh sepinya transaksi ketimbang gelombang permintaan dolar yang mereda.
Data Bank Sentral Nigeria menunjukkan volume transaksi antar bank di pasar resmi ambrol 62,2% dalam sehari, dari 208,09 juta dolar AS pada Rabu menjadi hanya 78,71 juta dolar AS pada Kamis. Jumlah kesepakatan yang terjadi pun menyusut dari 150 menjadi 106 deal, menandakan para pelaku pasar memilih menahan diri. Tidak adanya suntikan dolar dari bank sentral membuat likuiditas di pasar resmi mengering, sehingga pergerakan nilai tukar menjadi sangat terbatas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan permintaan dolar di pasar resmi memang berkurang, tetapi bukan karena fundamental ekonomi membaik. Pelaku pasar tampaknya menunggu kejelasan kebijakan moneter atau intervensi baru dari otoritas. Sementara itu, di pasar paralel, naira justru terdepresiasi ke N1.400 per dolar AS, memperlebar selisih harga dengan pasar resmi. Permintaan di sektor informal tetap tinggi, melampaui pasokan dolar yang tersedia.
Di tengah dinamika domestik, dolar AS secara global tetap perkasa terhadap mata uang utama lainnya. Ketegangan baru di Teluk memicu aksi safe-haven, sementara harga minyak yang melonjak memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Dolar menyentuh level 162,41 yen, mendekati posisi tertinggi sejak awal Juli. Euro dan pound sterling relatif stabil, masing-masing di $1,1426 dan $1,3392. Dolar Selandia Baru justru menguat 0,5% ke $0,5725 setelah bank sentralnya menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal hawkish.
Bagi Indonesia, pergerakan naira Nigeria menjadi pengingat bahwa volatilitas mata uang emerging market masih tinggi, terutama ketika likuiditas pasar menipis dan intervensi bank sentral tidak konsisten. Meski tidak ada korelasi langsung, pola tekanan di pasar valas Nigeria kerap menjadi indikasi sentimen investor terhadap aset berisiko di Asia. Rupiah pun perlu waspada terhadap potensi efek rambatan jika kondisi global memburuk.
Ke depan, arah naira akan sangat tergantung pada langkah Bank Sentral Nigeria. Apakah mereka akan kembali menggelontorkan dolar untuk menstabilkan pasar, atau membiarkan mekanisme pasar berjalan? Jika tidak ada intervensi, volume transaksi yang rendah bisa membuat nilai tukar rentan terhadap guncangan mendadak. Sementara itu, disparitas antara pasar resmi dan paralel yang melebar berpotensi mendorong aktivitas spekulatif dan memperumit upaya pengendalian inflasi.



