Keith Richards Buka Pintu Rolling Stones untuk Paul McCartney: 'Dia Rindu Bermain Band'
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Rolling Stones, Keith Richards, mengungkapkan bahwa Paul McCartney sangat merasakan kerinduan bermain dalam sebuah grup band, dan ia mempersilakan McCartney bergabung kapan saja.
- McCartney telah berkontribusi di dua album terbaru Stones, termasuk 'Hackney Diamonds' dan 'Foreign Tongues', menunjukkan chemistry yang kuat di antara para legenda musik ini.
- Richards dan personel Stones lainnya merenungkan rahasia umur panjang band, mulai dari kebebasan pribadi hingga keberuntungan menghindari kegagalan besar.

Gitaris legendaris Rolling Stones, Keith Richards, secara terbuka menyatakan bahwa Paul McCartney sangat merindukan pengalaman bermain dalam sebuah band. Dalam wawancara terbaru dengan Zane Lowe di Apple Music, Richards bahkan menawarkan McCartney untuk bergabung dengan Stones kapan pun ia mau, menandai babak baru dalam persahabatan panjang dua ikon musik Inggris tersebut.
McCartney, yang dikenal sebagai anggota The Beatles dan pendiri Wings, telah menyumbangkan permainan bass di dua album terakhir Rolling Stones: Hackney Diamonds (2023) dan rilisan terbaru Foreign Tongues. Menurut Richards, kegembiraan McCartney saat bermain bersama Stones sangat terasa. "Saya sadar bahwa Paul benar-benar rindu menjadi bagian dari band. Kegembiraannya saat berada dalam konteks itu luar biasa," ujar Richards. Ia menambahkan bahwa jika ada kesempatan untuk merekam lagi, ia akan segera menghubungi McCartney.
Richards mengingat kembali awal perkenalannya dengan McCartney, sejak era The Beatles dan Rolling Stones sama-sama meroket pada 1960-an. Ia menyebut momen ketika John Lennon dan Paul McCartney menyanyikan vokal latar untuk lagu Stones We Love You dan Dandelion pada 1967. "Senang bisa bekerja dengan seseorang dari era yang sama. Dia pemain yang luar biasa, dan saya ingin melakukan lebih banyak hal dengannya," kata Richards.
Di luar tawaran terbuka untuk McCartney, para personel Stones juga merenungkan faktor yang membuat mereka bertahan selama lebih dari 60 tahun. Vokalis Mick Jagger mengakui bahwa keberhasilan yang konsisten menjadi perekat utama. "Jika Rolling Stones sering mengalami kegagalan, mungkin kami tidak akan bertahan. Kami sangat beruntung dan sukses, meskipun tidak semua rekaman kami brilian," ujar Jagger.
Sementara itu, gitaris Ronnie Wood menekankan pentingnya menjaga jarak. "Kami tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Masing-masing menjalani hidup sendiri, dan ketika kembali berkumpul, rasanya seperti tak ada waktu yang berlalu. Kami seperti anak nakal yang kembali ke taman bermain, yaitu studio rekaman," kata Wood. Ia menambahkan bahwa energi Jagger masih menjadi motor penggerak hingga hari ini.
Richards sendiri membandingkan dinamika band dengan sebuah pernikahan, meskipun ia enggan menentukan siapa yang berperan sebagai suami atau istri. "Yang jelas, ketika Anda bertemu seseorang dengan selera dan perasaan musik yang sama, kenikmatannya berlipat ganda. Ini misteri, dan semoga tetap menjadi misteri," tutup Richards.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kolaborasi lintas generasi seperti ini menjadi pengingat bahwa ikatan musikal bisa melampaui rivalitas masa lalu. Pertanyaan besarnya: akankah Paul McCartney benar-benar tampil sebagai anggota tetap Rolling Stones, atau cukup menjadi tamu istimewa yang sesekali hadir?



