Kaca Kantor BGN Pecah, Polisi Pastikan Bukan Akibat Penembakan
Baca dalam 60 detik
- Polisi memastikan pecahnya kaca di Kantor Badan Gizi Nasional akibat pemuaian karena perbedaan suhu ekstrem, bukan karena penembakan.
- Fenomena ini disebut kerap terjadi 1โ2 kali setahun saat musim kemarau, menurut pengelola gedung.
- Cuaca panas ekstrem di Jakarta menjadi pemicu utama, mengingat suhu luar yang tinggi berpadu dengan pendingin ruangan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Reynold EP Hutagalung, membantah keras spekulasi yang menyebutkan bahwa pecahnya kaca di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/7) disebabkan oleh aksi penembakan. Dalam klarifikasinya, Reynold menjelaskan bahwa insiden tersebut murni akibat faktor cuaca.
Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan salah satu panel kaca gedung retak parah, dengan serpihan yang berjatuhan hingga ke lantai dasar. Kejadian ini sempat memicu kekhawatiran warga sekitar dan warganet yang menduga adanya tindak kriminal. Namun, penyelidikan awal kepolisian bersama pengelola gedung mengarah pada kesimpulan yang berbeda.
Menurut Reynold, pecahnya kaca disebabkan oleh pemuaian termal yang terjadi akibat perbedaan suhu yang signifikan antara luar dan dalam ruangan. "Cuaca di luar sangat panas, sementara di dalam gedung menggunakan AC, sehingga kaca memuai dan akhirnya pecah," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis malam.
Informasi yang dihimpun dari pihak pengelola gedung, yang diwakili oleh Martin, menyebutkan bahwa kejadian kaca pecah akibat cuaca panas bukanlah hal baru. "Dalam satu tahun, bisa terjadi satu hingga dua kali kaca gedung pecah saat musim panas atau kemarau," kata Reynold menirukan pernyataan Martin. Hal ini menunjukkan bahwa desain fasad gedung mungkin perlu dievaluasi untuk mengantisipasi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Fenomena kaca pecah akibat pemuaian termal sebenarnya umum terjadi pada bangunan bertingkat dengan panel kaca besar. Di Jakarta, suhu udara yang kerap mencapai 35โ37 derajat Celsius pada siang hari, ditambah dengan penggunaan pendingin ruangan bersuhu rendah, menciptakan gradien suhu yang tajam. Kaca yang tidak dirancang untuk menahan tekanan termal semacam itu rentan mengalami retak atau pecah.
Peristiwa ini juga mengingatkan pentingnya standar keselamatan gedung di Indonesia, terutama di tengah tren peningkatan suhu global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang berpotensi memicu berbagai dampak pada infrastruktur.
Meski insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, kepolisian tetap mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. "Kami sudah memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan atau penembakan. Semua murni karena faktor alam," tegas Reynold.
Ke depan, pengelola gedung BGN dan instansi terkait diharapkan dapat melakukan audit terhadap ketahanan material bangunan terhadap cuaca ekstrem. Pertanyaannya, apakah fenomena serupa akan terus berulang seiring dengan perubahan iklim yang semakin tidak menentu?



