PM Thailand Anutin Tiba di Malaysia, Perkuat Kerja Sama Bilateral dan Regional
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memulai kunjungan resmi dua hari ke Malaysia, disambut langsung oleh PM Anwar Ibrahim di Bandara KLIA.
- Agenda utama meliputi pembahasan perdagangan, konektivitas perbatasan, keamanan, dan penandatanganan MoU kerja sama pertanian.
- Kunjungan ini menjadi momentum strategis mengingat Thailand merupakan mitra dagang terbesar kedua Malaysia di ASEAN dengan nilai perdagangan mencapai RM118,57 miliar pada 2025.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul tiba di Malaysia pada Kamis (9/7) pagi untuk melakukan kunjungan resmi selama dua hari, menandai lawatan pertamanya ke negeri jiran sejak kembali menjabat pada Maret lalu. Kedatangan Anutin disambut langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di kompleks Bunga Raya, Bandara Internasional Kuala Lumpur, dalam sebuah upacara penyambutan resmi.
Kunjungan ini menjadi ajang bagi kedua pemimpin untuk meninjau perkembangan hubungan bilateral yang telah berjalan selama puluhan tahun. Dalam pertemuan bilateral yang dijadwalkan berlangsung hari ini, Anwar dan Anutin akan membahas berbagai sektor strategis, mulai dari perdagangan dan investasi, konektivitas perbatasan, keamanan, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga pertukaran antarmasyarakat. Tak hanya itu, kedua pemimpin juga dijadwalkan bertukar pandangan mengenai isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama, khususnya dalam kerangka ASEAN dan mekanisme regional lainnya.
Salah satu agenda penting yang akan disaksikan langsung oleh kedua perdana menteri adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di bidang kerja sama pertanian. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang baru bagi petani serta pelaku industri agrikultur di kedua negara. Keesokan harinya, Jumat (10/7), Anwar dan Anutin dijadwalkan meresmikan pembukaan jalan yang menghubungkan kompleks Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, dan Keamanan (ICQS) di Bukit Kayu Hitam, Malaysia, dengan kompleks Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina (CIQ) di Sadao, Thailand. Proyek infrastruktur ini menjadi simbol nyata upaya meningkatkan konektivitas darat antara kedua negara.
Dari sisi ekonomi, hubungan Malaysia-Thailand menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, Thailand menjadi mitra dagang terbesar keenam Malaysia di dunia dan kedua di kawasan ASEAN, dengan total nilai perdagangan mencapai RM118,57 miliar atau setara USD27,73 miliar. Angka ini semakin menguat pada awal 2026, di mana periode Januari hingga Maret mencatat perdagangan bilateral sebesar RM31,33 miliar (USD7,9 miliar), meningkat signifikan dibandingkan RM27,35 miliar (USD6,25 miliar) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan semakin eratnya integrasi ekonomi kedua negara, terutama di sektor perbatasan dan investasi.
Bagi Indonesia, dinamika hubungan Malaysia-Thailand memiliki implikasi strategis. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia perlu mencermati bagaimana kerja sama bilateral kedua negara dapat mempengaruhi keseimbangan regional, khususnya dalam hal konektivitas infrastruktur dan arus perdagangan di kawasan. Keberhasilan proyek penghubung Bukit Kayu Hitam-Sadao misalnya, dapat menjadi model bagi pengembangan konektivitas darat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia atau Indonesia-Thailand di masa depan. Selain itu, peningkatan perdagangan bilateral Malaysia-Thailand juga bisa menjadi sinyal bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekspornya di pasar ASEAN.
Ke depan, pertemuan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepakatan di atas kertas, tetapi juga implementasi nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat di kedua sisi perbatasan. Pertanyaannya, akankah kerja sama ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan memperkuat posisi ASEAN di tengah ketidakpastian global?



