Sayembara Rp20 Juta dari Polisi untuk Buron Pembunuh Sekdin Bangkalan: Netizen Jadi Mata-mata
Baca dalam 60 detik
- Penyidik Polda Jatim menggalang dana pribadi Rp20 juta sebagai hadiah bagi siapa pun yang memberi petunjuk lokasi Erlan, tersangka pembunuhan sekretaris dinas Bangkalan.
- Viralnya video terduga pelaku di media sosial justru mempersulit pengejaran karena Erlan terus berpindah tempat dengan bantuan jaringan pendukung.
- Keluarga korban menduga motif pembunuhan terkait love scam atau penipuan proyek, dan menegaskan penangkapan Erlan menjadi kunci membuka tabir kasus.

Kepolisian Daerah Jawa Timur mengambil langkah tak biasa dengan menggelar sayembara berhadiah Rp20 juta bagi masyarakat yang mampu memberikan informasi keberadaan Erlan, buron kasus pembunuhan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, RYS (51). Dana tersebut murni berasal dari kantong pribadi para penyidik, bukan dari anggaran dinas, sebagai respons atas sulitnya menangkap pelaku yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Kepala Tim Opsnal Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, Aipda Sigit Dwi Susanto, mengungkapkan bahwa ide sayembara ini muncul setelah video terduga pelaku viral di berbagai platform media sosial. Alih-alih mempermudah penyelidikan, viralisasi justru membuat Erlan semakin waspada dan kerap berpindah lokasi dengan bantuan sejumlah pihak yang menampungnya. "Karena sudah terlanjur viral, pelaku semakin pindah-pindah. Kami inisiatif pribadi untuk mempersempit ruang geraknya dengan melibatkan netizen," ujar Sigit, Rabu (8/7).
Sayembara ini diumumkan melalui akun TikTok pribadi Sigit, @hellboyjatanraspolda, dan langsung menuai respons dari warganet. Menurut Sigit, sejak pengumuman tersebut, banyak informasi masuk yang kini tengah didalami. Meski demikian, ia mengakui pengejaran terhadap Erlan tidak mudah karena yang bersangkutan diduga memiliki jaringan yang siap menampung di berbagai titik. "Masalahnya dia masih ada yang nampung, pindah masih ada yang nampung," keluhnya.
Kasus ini bermula dari penemuan jasad RYS di dalam mobil dinasnya di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Rabu (24/6). Hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong menunjukkan adanya luka robek pada cuping telinga kiri akibat benda tumpul, serta tanda-tanda asfiksia seperti pelebaran pembuluh darah di kelopak mata dan kebiruan pada bibir. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa korban meninggal akibat kekerasan.
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengantongi identitas terduga pelaku sejak awal. Dari unggahan media sosial terakhir korban dan rekaman CCTV di bandara, diketahui bahwa RYS sempat bepergian bersama Erlan ke Malang dan Batu beberapa hari sebelum kematiannya. Risang menduga motif pembunuhan terkait dengan modus penipuan, baik love scam maupun proyek fiktif. "Penipuan semua, properti, proyek, jual-beli. Kalau korban ini, mungkin modus love scam," ujarnya.
Erlan, yang disebut sebagai pria asal Sulawesi Selatan dan pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang telah bubar, diketahui kerap berpindah domisili antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Keluarga korban menegaskan tidak mengenal sosok Erlan sebelumnya, sehingga penangkapan menjadi krusial untuk mengungkap awal mula pertemuan mereka. "Harus ditangkap dulu E-nya. Karena keluarga tidak kenal dengan E," tegas Risang.
Dengan melibatkan partisipasi publik melalui sayembara ini, polisi berharap ruang gerak Erlan semakin sempit. Namun, tantangan terbesar adalah jaringan yang masih melindungi buron tersebut. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah iming-iming Rp20 juta cukup untuk memutus rantai perlindungan itu?



