Sentosa Beralih ke Pengalaman Imersif, Target 32 Juta Wisatawan per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Rencana induk Greater Sentosa tidak lagi mengandalkan atraksi tunggal, melainkan pengalaman berbasis alam seperti islet hopping dan canopy dining untuk memperpanjang durasi kunjungan.
- Para ahli menilai pergeseran ini sejalan dengan tren global di mana wisatawan mencari pengalaman autentik, wellness, dan rekreasi luar ruang.
- Dengan target 32 juta pengunjung tahunan, Sentosa harus mampu menarik basis pengunjung lokal yang kuat agar proyek ini berkelanjutan.

Singapura memoles kembali wajah pariwisatanya. Otoritas Pengembangan Sentosa (SDC) meluncurkan babak baru Rencana Induk Greater Sentosa yang tidak lagi mengandalkan atraksi tunggal, melainkan serangkaian pengalaman imersif berbasis alam—dari islet hopping hingga canopy dining—yang dirancang untuk membuat wisatawan betah lebih lama di pulau tersebut.
Dalam pengumuman yang disampaikan pada Jumat (3/7), SDC memproyeksikan kunjungan tahunan mencapai 32 juta orang setelah seluruh tahapan selama dua dekade rampung. Angka ini hampir dua kali lipat dari jumlah pengunjung sebelum pandemi, yang berkisar 17–19 juta per tahun. Untuk mewujudkannya, SDC akan mengganti monorel Sentosa Express dengan sistem trem baru, membangun Sensorium—venue serbaguna dalam ruangan—dan mengembangkan Pulau Brani sebagai kawasan atraksi utama.
Para pengamat pariwisata menilai langkah ini merupakan pergeseran strategis yang cerdas. Benjamin Cassim, dosen senior di Temasek Polytechnic, mengatakan bahwa aktivitas seperti islet hopping dan canopy dining bukanlah atraksi yang berdiri sendiri, melainkan pelengkap yang memperkaya pengalaman wisatawan. “Destinasi sukses di dunia kini bergerak melampaui sekadar membangun wahana,” ujar Christopher Khoo, direktur konsultan MasterConsult Services. “Wisatawan modern mencari wellness, rekreasi luar ruang, dan storytelling yang imersif. Rencana ini menjawab kebutuhan itu.”
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Singapura selama ini menjadi tolok ukur destinasi wisata buatan di Asia Tenggara. Jika Greater Sentosa berhasil, maka tekanan terhadap destinasi serupa di Indonesia—seperti Nusa Dua, Mandalika, atau kawasan terpadu di Batam dan Bintan—akan semakin besar untuk berinovasi. Apalagi, Singapura menargetkan wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesarnya. “Setiap dekade Singapura membutuhkan mesin pertumbuhan pariwisata baru. Greater Sentosa tampaknya menjadi proyek unggulan untuk generasi berikutnya,” tegas Khoo.
Namun, tantangan tidak kecil. SDC mengakui bahwa sejumlah bisnis di Sentosa harus tutup karena sewa mereka tidak diperpanjang. Ini bukan pertama kalinya: pada 2016, Underwater World Singapore ditutup, dan patung Merlion setinggi 37 meter dibongkar untuk memberi jalan bagi Sensoryscape. Siklus regenerasi atraksi ini menjadi konsekuensi logis dari ambisi besar. Joshua Loh dari Ngee Ann Polytechnic menekankan pentingnya basis pengunjung lokal. “Sentosa harus menarik warga Singapura secara reguler, bukan hanya turis. Tarif masuk kendaraan bisa diturunkan, dan lebih banyak acara antargenerasi perlu digelar,” usulnya.
Dengan target 32 juta kunjungan, Sentosa dan Pulau Brani diharapkan menjadi pusat pariwisata berikutnya setelah Marina Bay, Integrated Resorts, Jewel Changi, dan taman satwa Mandai. Pertanyaannya, akankah pengalaman imersif berbasis alam cukup untuk membuat wisatawan kembali lagi, ataukah ini hanya siklus lain dari gebrakan yang lambat laun kehilangan daya tarik? Hanya waktu yang akan menguji apakah strategi “pengalaman, bukan atraksi” benar-benar menjadi kunci keberlanjutan destinasi.



