Skandal Keuangan Bari: Aurelio De Laurentiis dan Anaknya Diselidiki
Baca dalam 60 detik
- Aurelio dan Luigi De Laurentiis diduga melakukan penggelapan akuntansi dan kebangkrutan fiktif di klub Serie C Bari.
- Kerugian Bari mencapai sekitar โฌ30 juta antara 2019-2025, diperparah oleh transaksi mencurigakan transfer kiper Elia Caprile.
- Kejaksaan meminta likuidasi yudisial Bari karena ketidakseimbangan keuangan yang mengancam kelangsungan klub.

Kejaksaan Negeri Bari resmi membuka penyelidikan terhadap pemilik klub Napoli, Aurelio De Laurentiis, dan putranya Luigi atas dugaan penggelapan akuntansi dan kebangkrutan fiktif dalam pengelolaan klub Serie C, SSC Bari. Penggeledahan telah dilakukan di markas Bari dan kantor pusat Filmauro, perusahaan induk keluarga De Laurentiis.
Penyelidikan ini bermula dari pemeriksaan laporan keuangan Bari yang menunjukkan kerugian berulang sekitar โฌ30 juta dalam kurun 2019 hingga 2025. Jaksa penuntut menilai klub mengalami defisit modal dan paparan utang yang parah tanpa rencana restrukturisasi yang kredibel. Kondisi ini dinilai semakin memburuk akibat serangkaian transaksi mencurigakan, termasuk transfer kiper Elia Caprile.
Menurut penyelidik, ketika Caprile pindah dari Bari ke Napoli pada 2023, perjanjian transfer tidak menyertakan klausul bonus bagi Bari atas keuntungan modal di masa depan. Akibatnya, seluruh nilai ekonomi pemain tersebut dialihkan ke Napoli tanpa kompensasi bagi Bari, memperdalam kesulitan finansial klub. Caprile, yang kini bermain untuk Cagliari, hanya tampil empat kali dalam dua musim di Napoli sebelum dipinjamkan ke Empoli dan akhirnya dijual permanen seharga โฌ8 juta pada musim panas lalu.
Selain keluarga De Laurentiis, sejumlah tokoh sepak bola Italia turut diperiksa, meski belum ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah mantan direktur Bari Ciro Polito, mantan direktur olahraga Napoli Cristiano Giuntoli (kini di Atalanta), Mauro Meluso (direktur olahraga Napoli 2023-24), dan agen Caprile, Graziano Battistini. Penggeledahan dilakukan terkait transfer sang kiper, namun hingga kini mereka belum berstatus tersangka.
Jaksa juga mengajukan permohonan likuidasi yudisial atas Bari karena kebangkrutan. Dalam dokumen pengadilan yang dikutip Gazzetta dello Sport, penyidik menyatakan bahwa Bari menderita โketidakseimbangan ekonomi dan finansial serius yang dapat membahayakan kelangsungan bisnis.โ Klub disebut hanya bisa bertahan berkat suntikan dana luar biasa dari pemegang saham tunggal, Filmauro, melalui injeksi modal, penghapusan utang, dan revaluasi merek dagang klub.
Kasus ini menjadi pengingat akan risiko tata kelola keuangan di klub sepak bola, terutama yang bergantung pada pemilik tunggal. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi pada klub-klub Liga 1 yang dimiliki oleh konglomerat atau perusahaan. Minimnya transparansi laporan keuangan dan ketergantungan pada suntikan dana pemilik membuat klub rentan terhadap krisis saat pemilik menarik dukungan. Regulasi FIFA dan PSSI sejatinya mendorong lisensi klub berbasis transparansi finansial, namun implementasinya masih lemah.
Ke depan, kasus De Laurentiis berpotensi memicu gelombang investigasi serupa di Italia dan Eropa. Jika terbukti bersalah, keluarga De Laurentiis bisa menghadapi sanksi berat, termasuk larangan mengelola klub. Pertanyaannya, apakah regulator sepak bola Indonesia akan belajar dari kasus ini untuk memperketat pengawasan keuangan klub?



