Serangan di Selat Hormuz dan Ukraina Dorong Harga Minyak Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal IRGC ke kapal dagang di Selat Hormuz dan serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Brent naik 1,05% ke $72,75 per barel, sementara WTI naik 0,8% ke $69,32, didorong oleh risiko eskalasi di Timur Tengah dan Rusia.
- Keputusan OPEC+ menambah pasokan 188.000 barel per hari pada Agustus membatasi kenaikan harga, namun ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor dominan.

Harga minyak mentah dunia melonjak pada Selasa (9/7) setelah dua insiden terpisah—serangan rudal terhadap kapal dagang di Selat Hormuz dan serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Rusia—memperkuat kekhawatiran akan terganggunya pasokan global. Brent, acuan internasional, naik 1,05% menjadi $72,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,8% ke $69,32 per barel.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menembakkan rudal ke kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak dunia. Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS, Washington kemungkinan akan membalas dengan serangan terhadap sasaran Iran, meningkatkan risiko eskalasi yang lebih luas. Iran sendiri mengklaim menargetkan kapal tanker minyak Qatar yang mencoba melintasi jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS setelah mengabaikan peringatan berulang.
Di sisi lain, Ukraina mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang menghantam Kilang Minyak Omsk di Siberia Barat, salah satu fasilitas pengolahan terbesar Rusia dengan kapasitas 8,4 juta ton per tahun. Kyiv menyatakan serangan itu mengenai unit pengolahan minyak dan telah mempengaruhi lebih dari 30% kapasitas penyulingan Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Langkah ini memicu kekhawatiran baru tentang produksi bahan bakar Rusia dan potensi pengetatan pasokan energi global.
Kombinasi kedua insiden tersebut menambah premi risiko geopolitik yang signifikan ke harga minyak. Namun, kenaikan harga tidak sepenuhnya tak terkendali. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, OPEC+, pada Minggu lalu menyetujui peningkatan target produksi kolektif sebesar 188.000 barel per hari pada Agustus, sebagai bagian dari pengurangan bertahap pemotongan sukarela yang pertama kali diumumkan pada April 2023. Keputusan ini menandakan komitmen kelompok untuk menjaga stabilitas pasar, namun juga membatasi ruang kenaikan harga lebih lanjut.
Bagi Indonesia, yang merupakan importir minyak bersih, lonjakan harga ini berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak terhadap harga bahan bakar domestik dan inflasi, terutama jika ketegangan berlanjut. Selain itu, gangguan di Selat Hormuz dapat mempengaruhi pasokan minyak mentah ke kilang-kilang di Asia, termasuk Indonesia, yang bergantung pada impor dari Timur Tengah.
Pelaku pasar kini menanti rilis risalah rapat terakhir Federal Reserve pada Rabu (10/7) untuk petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter AS, serta laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) dari Badan Informasi Energi AS (EIA). Pertanyaan kunci yang mengemuka: seberapa cepat OPEC+ dapat merealisasikan kenaikan produksi di tengah ketidakpastian geopolitik, dan apakah respons militer AS terhadap Iran akan memicu konflik yang lebih luas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan arah harga minyak dalam pekan-pekan mendatang.



