Leeds United Beralih ke Gelandang Serie A: Mandela Keita Dinilai Lebih Unggul dari Shea Charles
Baca dalam 60 detik
- Leeds United mengincar Mandela Keita dari Parma setelah dua tawaran untuk Shea Charles ditolak Southampton.
- Statistik Keita di Serie A musim lalu lebih impresif dibanding Charles di Championship, terutama dalam aspek defensif.
- Dengan banderol £26 juta, Keita dinilai sebagai investasi lebih aman karena sudah teruji di liga top Eropa.

Leeds United dikabarkan mengalihkan fokus perburuan gelandang tengah ke Serie A setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Southampton untuk Shea Charles. Klub Divisi Championship Inggris itu kini melirik Mandela Keita, gelandang asal Belgia milik Parma, yang dianggap sebagai opsi lebih matang dan siap bersaing di level tertinggi.
Manajer Daniel Farke sebelumnya mengincar Charles, pemain internasional Irlandia Utara berusia 22 tahun, setelah Southampton gagal promosi ke Premier League. Leeds telah melayangkan dua tawaran hingga £23 juta, namun keduanya ditolak. Charles memang tampil menjanjikan di Championship musim lalu dengan empat gol dalam 33 penampilan, tetapi ia belum pernah bermain di liga utama Eropa—sebuah risiko yang mungkin tidak ingin diambil Leeds dengan harga mahal.
Menurut laporan Gazzetta dello Sport yang dikutip Sport Witness, Leeds telah melakukan kontak awal dengan Parma untuk membahas kemungkinan transfer Keita. Klub Serie A tersebut dikabarkan bersedia melepas sang pemain dengan nilai sekitar £26 juta demi mendanai perekrutan lain. Keita, yang kini berusia 24 tahun, telah membuktikan diri sebagai gelandang serbabisa di kasta tertinggi Italia.
Perbandingan statistik menunjukkan Keita unggul dalam hampir semua aspek pertahanan dibanding Charles. Pemain Belgia itu lebih aktif dalam merebut bola, memotong aliran lawan, dan memulihkan penguasaan bola—semua dilakukan di kompetisi yang levelnya jauh di atas Championship. Selain itu, kemampuannya menggiring bola juga menjadi nilai tambah yang membuatnya cocok sebagai gelandang box-to-box.
Bagi Leeds, keputusan membayar £26 juta untuk Keita bisa dianggap lebih masuk akal ketimbang terus mengejar Charles dengan harga tak jauh berbeda. Charles memang memiliki potensi, namun risikonya lebih besar karena ia belum teruji di liga elite. Sementara Keita sudah menunjukkan konsistensi di Serie A, yang notabene merupakan salah satu liga terbaik Eropa.
Dari sudut pandang sepak bola Indonesia, pergerakan Leeds ini menarik untuk diikuti. Klub-klub Eropa kini semakin berani merekrut pemain dari liga menengah seperti Serie A, yang kerap dianggap sebagai batu loncatan. Jika transfer ini terwujud, Keita bisa menjadi contoh bagaimana pemain yang matang di Italia mampu bersaing di Inggris—sebuah pelajaran bagi klub-klub Asia yang ingin mengembangkan pemainnya di Eropa.
Namun, negosiasi masih berlangsung dan belum ada kepastian. Leeds harus menyelesaikan kesepakatan dengan Parma dan menyetujui persyaratan pribadi dengan Keita sebelum jendela transfer ditutup awal September. Pertanyaan besarnya: akankah manajemen Leeds berani menggelontorkan dana lebih untuk pemain yang sudah teruji, atau tetap bertahan pada opsi yang lebih murah namun berisiko?



