AC Milan Catat Kerugian €25 Juta: Absen dari Liga Champions Berdampak Finansial
Baca dalam 60 detik
- Klub raksasa Serie A, AC Milan, diperkirakan membukukan defisit €25 juta pada tahun fiskal 2025/26, membalikkan tren positif tiga tahun berturut-turut.
- Penyebab utama adalah ketidakhadiran di Liga Champions yang memangkas pendapatan siaran hingga 42% dan pendapatan pertandingan 17,6%, meski ada kenaikan kecil dari sponsor.
- Meski merugi, kondisi keuangan klub dianggap sehat dengan ekuitas positif €199 juta, dan kepemilikan San Siro diharapkan meningkatkan pendapatan jangka panjang.

AC Milan diproyeksikan mencatat kerugian bersih sekitar €25 juta (sekitar Rp425 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir 30 Juni 2025, menurut analisis Calcio e Finanza yang dikutip CalcioMercato. Angka ini kontras dengan laba €2,9 juta pada periode sebelumnya sekaligus mengakhiri tiga tahun beruntun catatan positif di laporan keuangan klub.
Penyebab utama defisit tersebut bersifat non-teknis: absennya Milan dari Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut. Tanpa partisipasi di kompetisi elite Eropa, pendapatan total klub merosot dari hampir €500 juta menjadi sekitar €433 juta. Penurunan paling tajam terjadi pada pendapatan siaran, yang ambles 42%, sementara pendapatan hari pertandingan turun 17,6%. Satu-satunya titik cerah datang dari pendapatan komersial yang naik 5,9% berkat perpanjangan kontrak sponsor utama dengan Emirates.
Untuk menambal lubang pendapatan, Milan mengandalkan aktivitas jual-beli pemain yang mencapai sekitar €100 juta—hampir seperempat dari total pendapatan klub. Angka ini naik dari €83,2 juta pada tahun sebelumnya. Penjualan Theo Hernández dan Malick Thiaw tercatat dalam laporan tahun ini, sementara kepergian Tijjani Reijnders sudah diakui di periode sebelumnya. Pola serupa kemungkinan harus dipertahankan jika Milan kembali gagal lolos ke Liga Champions musim depan.
Beban tambahan muncul dari kompensasi pemutusan kontrak dua petinggi klub: mantan CEO Giorgio Furlani dan mantan direktur olahraga Igli Tare, yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar €13 juta. Berbeda dengan Massimiliano Allegri yang mencapai kesepakatan damai sebelum bergabung ke Napoli, kedua eksekutif tersebut dipaksa hengkang sehingga klub harus membayar pesangon.
Meski merugi, analis menilai kondisi keuangan Milan masih dalam batas wajar. Dengan ekuitas bersih positif sebesar €199 juta, defisit €25 juta dapat diserap tanpa mengancam likuiditas. Kabar baik lainnya: pembelian Stadion San Siro dan lahan di sekitarnya menghilangkan beban sewa tahunan sekitar €5 juta. Kepemilikan stadion juga berpotensi meningkatkan pendapatan hari pertandingan di masa depan, terutama jika renovasi atau pengembangan komersial dilakukan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Milan menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada pendapatan siaran dan tiket sangat riskan jika klub gagal tampil di kompetisi bergengsi. Klub-klub Asia, termasuk Indonesia, yang mulai membangun stadion sendiri atau menjalin kemitraan siaran jangka panjang bisa belajar dari pengalaman Rossoneri. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Milan mempertahankan daya saing di Serie A dan Eropa tanpa mengorbankan keseimbangan keuangan?



