Uji Coba Rudal Balistik China dari Kapal Selam: Ancaman Baru bagi Stabilitas Asia-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- China berhasil meluncurkan rudal balistik antarbenua dari kapal selam nuklir ke Samudra Pasifik, memicu kekhawatiran global.
- AS mengecam uji coba tersebut sebagai bagian dari pembangunan nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan.
- Uji coba JL-3, rudal dengan jangkauan 10.000 km, menandakan peningkatan signifikan kemampuan pencegahan nuklir China.

Uji coba rudal balistik antarbenua berkemampuan nuklir yang dilakukan China dari kapal selam pada Senin lalu memicu reaksi keras dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Asia-Pasifik. Washington menilai langkah Beijing tersebut sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan dunia, terutama karena dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan resminya mendesak China untuk segera menahan diri dari proliferasi nuklir dan bergabung dalam perundingan kontrol senjata yang bermakna. "Pembangunan nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan kawasan dan dunia," demikian bunyi pernyataan tersebut. AS juga menekankan komitmen pertahanannya terhadap sekutu-sekutunya di Asia.
Menurut militer China dan media resmi setempat, uji coba tersebut merupakan bagian dari latihan tahunan angkatan laut dan tidak ditujukan terhadap negara tertentu. Rudal yang diluncurkan membawa hulu ledak palsu dan jatuh di perairan selatan Samudra Pasifik. Namun, klaim tersebut tidak meredakan kekhawatiran internasional, terutama karena China tidak memberikan notifikasi terlebih dahulu sebagaimana yang lazim dilakukan oleh negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya.
Reaksi keras dari AS, Australia, Jepang, dan negara-negara lain terjadi di tengah upaya Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping untuk menstabilkan hubungan bilateral. Setelah kunjungan Trump ke Beijing pada pertengahan Mei, Xi dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Washington pada 24 September mendatang. Uji coba rudal ini berpotensi menjadi isu sensitif dalam pertemuan tersebut.
Para analis militer menilai uji coba ini menandai lompatan signifikan dalam kemampuan pencegahan nuklir China. Lyle Morris, mantan pejabat pertahanan AS yang kini menjadi senior fellow di Asia Society Policy Institute, mengatakan bahwa uji coba tersebut menunjukkan China bergerak menuju kemampuan pencegahan nuklir berbasis laut yang lebih sulit dilacak dan berjangkauan lebih jauh. "Ini adalah perkembangan besar," ujarnya, seraya memperkirakan rudal jatuh di timur laut Kepulauan Solomon.
Bagi Indonesia, eskalasi kekuatan nuklir di kawasan Asia-Pasifik membawa implikasi langsung. Sebagai negara yang berada di jalur perdagangan dan keamanan maritim, setiap peningkatan ketegangan antara kekuatan besar berpotensi mengganggu stabilitas regional. Indonesia selama ini konsisten mendorong dialog dan transparansi dalam isu persenjataan, termasuk melalui forum ASEAN. Langkah China yang tidak memberikan notifikasi sebelumnya juga bertentangan dengan semangat Code of Conduct di kawasan.
Media China, Global Times, justru menyambut uji coba tersebut sebagai pencapaian penting. Dalam tajuknya, media itu menulis, "Semakin kuat pasukan nuklir strategis China, semakin terjamin perdamaian regional." Pernyataan ini kontras dengan kekhawatiran yang disuarakan oleh AS dan sekutunya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah China akan bersedia bergabung dalam perundingan kontrol senjata multilateral, atau justru semakin mempercepat pengembangan arsenal nuklirnya. Dengan jadwal pertemuan puncak Trump-Xi yang semakin dekat, uji coba rudal ini bisa menjadi ujian bagi komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas global.



