KTT NATO di Ankara: Eropa Mulai Mandiri, AS Menarik Diri
Baca dalam 60 detik
- KTT NATO di Ankara akan menguji komitmen Eropa meningkatkan belanja pertahanan di tengah sikap AS yang kian skeptis terhadap aliansi.
- Trump mendorong 'NATO 3.0' dengan Eropa memimpin pertahanannya sendiri, sementara beberapa negara anggota mulai kesulitan memenuhi target belanja.
- Isu Ukraina dan Iran mendominasi agenda, namun keanggotaan Ukraina masih jauh dari kata sepakat karena AS menolak keras.

Ketika dua rudal Rusia menghantam Kyiv dalam sepekan dan ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas, KTT NATO di Ankara pada 7-8 Juli mendatang menjadi panggung bagi transformasi besar aliansi pertahanan Barat. Di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump agar Eropa lebih mandiri, pertemuan puncak ini diprediksi akan mengukuhkan pergeseran strategis menuju 'NATO 3.0'—sebuah konsep di mana negara-negara Eropa mengambil alih tanggung jawab utama pertahanan mereka sendiri.
Trump, yang sejak awal masa jabatannya meragukan nilai NATO bagi Washington, tahun lalu berhasil diredakan oleh janji sekutu untuk mengalokasikan 5% PDB untuk pertahanan pada 2035. Kini, tantangannya adalah membuktikan kemajuan nyata menuju target tersebut. Menurut data Atlantic Council, belanja pertahanan negara-negara Eropa dan Kanada pada 2025 meningkat 20% dibanding tahun sebelumnya. Enam anggota NATO—tiga negara Baltik, Denmark, Polandia, dan Norwegia—bahkan mengeluarkan persentase PDB lebih besar untuk pertahanan daripada AS. Jerman, yang kini menjadi pengeluaran pertahanan terbesar kedua di NATO secara absolut, juga menunjukkan ambisi besar.
Namun, di balik angka-angka itu, masih ada ganjalan. Pada 2026, Republik Ceko dan Hongaria diprediksi gagal memenuhi standar 2% PDB yang sempat tercapai semua anggota (kecuali Islandia) pada 2025. Industri pertahanan Eropa bekerja maksimal, tetapi kapasitas penyerapan investasi baru masih terbatas. Lebih penting lagi, komitmen belanja belum sepenuhnya berwujud dalam kemampuan tempur yang konkret.
Trump sendiri tampak enggan mengakui kemajuan tersebut. Beberapa hari sebelum berangkat ke Ankara, ia menyebut dukungan AS terhadap NATO yang 'sepihak' sebagai sesuatu yang 'konyol'. Ketidakpuasan ini bahkan berpotensi membuat Albania—anggota dengan belanja rendah—dicoret sebagai tuan rumah KTT 2027. Sementara itu, isu lain yang mengganjal adalah kurangnya dukungan NATO terhadap perang AS-Israel melawan Iran. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berusaha menghindari pembahasan mendalam, namun jika terpaksa, aliansi kemungkinan akan mengadopsi sikap G7: menyambut kesepakatan AS-Iran, mengutuk ambisi nuklir Teheran, dan mendukung operasi maritim Prancis-Inggris di Selat Hormuz—tanpa koordinasi langsung NATO.
Di sisi lain, Ukraina mendapat angin segar. Presiden Volodymyr Zelensky dijadwalkan hadir dalam pertemuan Dewan NATO-Ukraina dan Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina (Ramstein). Ia berharap ada komitmen baru serupa paket pertahanan Inggris dan Jerman. Inisiatif Daftar Kebutuhan Prioritas Ukraina (Purl) yang diluncurkan tahun lalu juga akan ditegaskan kembali. Namun, soal keanggotaan NATO, AS tetap bersikukuh menolak. Jalur aksesi Ukraina tidak akan dibahas dalam KTT ini.
Yang menarik, isu Tiongkok justru meredup dalam agenda NATO. Setelah sempat menjadi sorotan pada KTT London 2019 dan Washington 2024, Tiongkok tidak disebut dalam deklarasi Den Haag 2025 dan diperkirakan tidak akan muncul di Ankara. Penyebabnya beragam: upaya akomodasi Trump dengan Beijing, skeptisisme Prancis terhadap NATO global, kekhawatiran negara Eropa Timur bahwa fokus pada Tiongkok mengalihkan perhatian dari Rusia, serta kepentingan ekonomi Jerman yang membutuhkan pasar Tiongkok. Sementara itu, isu perubahan iklim dan Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan—yang sempat menjadi agenda era Biden—kembali absen, menandai prioritas baru di bawah Trump.
Deklarasi KTT Ankara diprediksi akan singkat untuk menghindari kontroversi. Namun, seperti gunung es, sebagian besar pekerjaan justru berada di bawah permukaan. Rencana detail menuju 'NATO 3.0' telah disepakati dalam pertemuan menteri pertahanan NATO pada pertengahan Juni. Kesenjangan dalam rencana pertahanan Eropa akibat pengumuman penarikan pasukan AS sebagian besar telah diisi. KTT ini mungkin akan menghasilkan banyak kebisingan, tetapi adaptasi NATO terhadap realitas baru yang diciptakan oleh perubahan prioritas AS justru menunjukkan ketahanan yang tinggi. Pertanyaannya, akankah Eropa mampu mempertahankan momentum ini tanpa sandaran Washington?



