Asing Jual Bersih Rp365 Miliar di Sesi I, Saham Bank Mandiri Paling Dibuang
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp365,1 miliar pada sesi I perdagangan hari ini, dengan total transaksi Rp3,3 triliun.
- Saham BMRI menjadi yang paling banyak dilepas asing senilai Rp100,7 miliar, disusul TPIA dan MAPI.
- BBCA justru menjadi primadona dengan net buy Rp63,5 miliar, menunjukkan selektivitas investor global.

Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih di bursa saham Indonesia pada sesi pertama perdagangan Selasa (7/7/2026), dengan nilai mencapai Rp365,1 miliar. Arus keluar modal asing ini terjadi di tengah transaksi total Rp3,3 triliun, di mana aksi jual (foreign sell) sebesar Rp1,8 triliun masih lebih besar dibandingkan pembelian (foreign buy) yang hanya Rp1,5 triliun.
Tekanan jual terbesar tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi yang paling dibuang asing dengan nilai jual bersih Rp100,7 miliar. Disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang dilepas senilai Rp82,4 miliar, serta PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) sebesar Rp36,6 miliar. Aksi jual juga terjadi pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) senilai Rp33,9 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp30,4 miliar.
Menurut analis pasar modal, aksi jual asing ini mencerminkan sikap wait-and-see pelaku global terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. Meski demikian, tidak semua saham ditinggalkan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) justru mencatatkan pembelian bersih tertinggi sebesar Rp63,5 miliar, menandakan investor asing masih percaya pada fundamental perbankan swasta nasional.
Selain BBCA, saham lain yang menjadi incaran asing antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dengan net buy Rp25,2 miliar, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) Rp10,8 miliar, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp8,8 miliar. Investor asing juga mengakumulasi PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) masing-masing Rp8,2 miliar dan Rp8,1 miliar.
Bagi investor domestik, data ini menjadi sinyal bahwa arus modal asing masih fluktuatif dan perlu dicermati dalam strategi portofolio. Tekanan jual di sektor perbankan pelat merah dan energi berbanding terbalik dengan minat pada perbankan swasta serta tambang mineral. Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan suku bunga global akan menjadi faktor penentu apakah aksi jual asing ini berlanjut atau berbalik arah.



