Skandal Donasi Kuil Ram: Pengurus Mundur, Dugaan Korupsi Mengguncang Kuil Paling Sakral India
Baca dalam 60 detik
- Sekretaris jenderal Kuil Ram di Ayodhya mengundurkan diri setelah tuduhan penggelapan dana sumbangan jemaah yang mencapai puluhan juta rupee.
- Pemerintah negara bagian Uttar Pradesh membentuk tim investigasi khusus setelah mantan pengawas keuangan melaporkan dugaan pencurian yang memicu perdebatan politik.
- Pengurus baru berjanji menutup celah pengelolaan keuangan, sementara penyelidikan polisi masih berlangsung dan sidang lanjutan dijadwalkan 22 Juli.

Kuil Ram di Ayodhya, salah satu tempat ziarah paling sakral di India yang baru diresmikan pada Januari 2024, diterpa skandal keuangan setelah muncul tuduhan penggelapan dana sumbangan jemaah. Pengurus kuil mengumumkan perombakan kepemimpinan dengan menerima pengunduran diri sekretaris jenderal Champat Rai dan menunjuk pejabat sementara.
Shri Ram Janmabhoomi Teerth Kshetra Trust, badan independen yang mengelola kuil, menggelar rapat darurat pada Senin (8/7) setelah tuduhan pencurian mencuat bulan lalu. Sebelumnya, trust membantah adanya penyimpangan, namun pemerintah negara bagian Uttar Pradesh membentuk Tim Investigasi Khusus (SIT) yang terdiri dari tiga anggota untuk menyelidiki kasus ini. Berdasarkan laporan awal SIT, polisi Ayodhya telah menetapkan delapan tersangka dan menahan mereka untuk diperiksa.
Bendahara trust, Govind Dev Giri, dalam konferensi pers mengonfirmasi bahwa Rai dan pejabat lain, Anil Mishra, mengundurkan diri setelah polisi melaporkan pengaduan pada 25 Juni. Posisi Rai digantikan oleh Krishna Mohan, pensiunan pejabat kehutanan yang juga anggota Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi induk kelompok nasionalis Hindu termasuk Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Selain itu, trust menciptakan jabatan CEO baru yang akan diisi berdasarkan rekomendasi panel tiga orang.
Skandal ini bermula dari laporan mantan pengawas akuntansi yang mengaku dipecat setelah menyuarakan kekhawatiran tentang dugaan penyelewengan di internal trust. Klaimnya berkembang menjadi polemik politik besar, dengan partai oposisi mempertanyakan penanganan uang tunai, perhiasan, emas, dan perak yang disumbangkan jemaah. Sejumlah petisi diajukan ke pengadilan tinggi negara bagian dan Mahkamah Agung India, mendesak investigasi yang diawasi pengadilan oleh kepolisian federal.
Dalam pernyataan pertamanya, Mohan menegaskan prioritasnya adalah mengidentifikasi dan menutup celah agar insiden serupa tidak terulang. Ia mengakui tuduhan tersebut telah merusak citra trust dan menimbulkan ketidakpercayaan di masyarakat. Sementara itu, Giri menekankan bahwa besaran kerugian bukanlah isu utama, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan jemaah dan kredibilitas lembaga. "Apakah pencurian itu kecil atau besar, itu urusan belakangan. Suasana yang tercipta inilah yang menyakiti kita semua," ujarnya seperti dikutip The Indian Express.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola keuangan di lembaga keagamaan yang mengelola dana publik dalam jumlah besar. Di tengah maraknya lembaga filantropi berbasis agama di Tanah Air, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci menjaga kepercayaan umat. Skandal di kuil yang memiliki signifikansi politik dan religius tinggi ini menunjukkan bahwa pengawasan internal yang lemah dapat memicu krisis kepercayaan yang meluas.
Trust dijadwalkan menggelar pertemuan berikutnya pada 22 Juli, dengan harapan polisi telah menyerahkan laporan akhir penyelidikan. Pertanyaan yang masih menggantung: seberapa besar dampak skandal ini terhadap citra kuil yang menjadi simbol kebangkitan Hindu nasionalis di India? Dan akankah perombakan kepemimpinan cukup untuk memulihkan kepercayaan jemaah?



