BRI Catat Dividen Terbesar Sepanjang Sejarah, Tembus Rp52,1 Triliun
Baca dalam 60 detik
- BRI membagikan dividen tunai Rp52,1 triliun untuk tahun buku 2025, rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
- Kinerja solid ditopang laba bersih Rp57,13 triliun pada 2025 dan pertumbuhan kredit 13,7% yoy pada kuartal I-2026.
- Di bawah supervisi Danantara, BRI fokus pada transformasi digital, efisiensi pendanaan, dan pemberdayaan UMKM.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan rekor baru dalam sejarah perseroan: dividen tunai tahun buku 2025 yang dibagikan mencapai Rp52,1 triliun, setara Rp346 per saham. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang berdirinya bank pelat merah tersebut, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu kontributor utama bagi penerimaan negara dari sektor BUMN.
Keputusan pembagian dividen jumbo itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026, mengacu pada laba bersih konsolidasian tahun lalu sebesar Rp57,13 triliun. Dari jumlah tersebut, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp56,65 triliun. Dengan rasio pembayaran dividen yang tinggi, BRI menunjukkan komitmennya untuk memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham, termasuk pemerintah Indonesia yang memegang mayoritas saham.
Momentum positif berlanjut pada awal 2026. Pada kuartal pertama tahun ini, BRI membukukan laba bersih konsolidasian Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7% secara tahunan. Penyaluran kredit mencapai Rp1.562 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp1.555 triliun, naik 9,4% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit ke sektor produktif dan konsumsi, serta peningkatan transaksi digital melalui platform BRImo dan Qlola.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebutkan bahwa kehadiran Danantara โ induk holding BUMN โ menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan transformasi. "Kami ingin memastikan pertumbuhan tidak hanya tercermin pada kinerja keuangan, tetapi juga pada kontribusi nyata dalam pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026).
Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah program transformasi BRIVolution Reignite, yang berfokus pada penguatan struktur pendanaan, digitalisasi, dan peningkatan produktivitas. Hasilnya mulai terlihat: rasio CASA (Current Account Savings Account) naik ke 68,07% pada kuartal I-2026, dan cost of fund (CoF) turun dari 3% menjadi 2,3%. Efisiensi ini ditopang oleh peningkatan transaksi digital dan perbaikan komposisi dana murah.
Di sektor pembiayaan UMKM, BRI tetap menjadi pemain dominan. Hingga Mei 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp84,36 triliun, atau 46,87% dari total alokasi tahun ini sebesar Rp180 triliun. Sektor pertanian menyerap porsi terbesar, yaitu Rp35,91 triliun. Selain itu, BRI juga memperkuat pembiayaan perumahan melalui Kredit Pemilikan Properti (KPP) yang mencapai Rp9,5 triliun untuk 68.212 debitur, dan meningkatkan alokasi tahun ini dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menambahkan bahwa kinerja positif bank-bank Himbara menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. "Pembiayaan ke sektor produktif dan kerakyatan, termasuk manufaktur, hilirisasi, infrastruktur, dan UMKM, mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing nasional," ujarnya.
Ke depan, BRI menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan tetap menjaga kualitas aset dan efisiensi. Pertanyaan yang muncul: mampukah bank ini mempertahankan rekor dividen di tengah tekanan likuiditas global dan persaingan digital yang semakin ketat? Jawabannya akan bergantung pada sejauh mana transformasi BRIVolution Reignite mampu menghasilkan efisiensi dan sumber pertumbuhan baru.



