Melawan Ombak dan Stigma: Peselancar Muda Bangladesh Bersiap ke Asian Games
Baca dalam 60 detik
- Dua atlet dari Cox's Bazar, Mohammad Mannan dan Fatima Akhter, akan mewakili Bangladesh dalam debut surfing di Asian Games 2026 Jepang.
- Di tengah keterbatasan peralatan dan minimnya sponsor, para peselancar ini berlatih mandiri dengan menonton video atlet dunia.
- Kisah mereka menyoroti perjuangan melawan kemiskinan dan tekanan sosial, terutama bagi perempuan yang harus memilih antara pernikahan dini atau olahraga.

Dua peselancar asal Cox's Bazar, Bangladesh, akan menorehkan sejarah saat cabang olahraga surfing pertama kali dipertandingkan di Asian Games 2026 di Jepang. Di balik ambisi itu, terbentang perjuangan panjang melawan kemiskinan, stigma sosial, dan minimnya dukungan finansial.
Mohammad Mannan, 25 tahun, dan Fatima Akhter, 16 tahun, adalah anggota klub Bangladesh Surf Girls and Boys yang bermarkas di gubuk reyot di tepi Pantai Cox's Bazar—garis pantai sepanjang 120 kilometer yang menjadi salah satu yang terpanjang di dunia. Bagi mereka, papan selancar adalah alat pelarian dari realitas keras kehidupan.
"Saat saya naik papan, saya lupa segalanya," ujar Akhter, yang harus menghadapi tekanan besar sebagai remaja perempuan di negara mayoritas Muslim. Ia bercerita bahwa teman-temannya yang mengajarinya berselancar justru menjadi korban pernikahan dini. "Mereka selalu berkata: jangan menikah, bertahanlah pada surfing."
Perjalanan Mannan tak kalah berat. Ia memulai hidup dengan berjualan perhiasan kerang untuk membantu keluarganya. Meski orang tuanya mendesaknya berhenti dan fokus belajar, Mannan tetap bertahan. "Saya yakin surfing akan berkembang," katanya. Ia belajar dari video YouTube peselancar legendaris John John Florence, karena tak mampu berlatih di luar negeri. Pengalaman pertamanya di Maladewa menjadi kejutan: dari ombak setinggi 1,5 meter, ia harus menghadapi ombak setinggi 4,5 meter.
Pendiri klub, Rashed Alam, mengakui tantangan besar. "Kami tidak punya sponsor untuk mengirim atlet ke luar negeri," ujarnya. Alam sendiri merupakan pionir surfing di Bangladesh. Olahraga ini pertama kali diperkenalkan pada 2004 oleh empat turis Hawaii yang meninggalkan papan selancar mereka. Alam kemudian belajar di California sebelum kembali ke Bangladesh pada 2013 dan mendirikan klub pertama.
Anggota termuda klub, Mehedi Hasan (10 tahun), hidup sendirian di jalanan. Ia bertahan dengan bernyanyi dan memijat turis. Meski ombak sering kali lebih tinggi dari dirinya, ia merasa bebas saat berselancar. "Rasanya luar biasa saat bisa mengalahkan ombak," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin potensi besar olahraga selancar di negara kepulauan. Dengan ribuan titik ombak kelas dunia seperti di Bali, Nias, atau Mentawai, Indonesia sebenarnya memiliki modal alam yang jauh lebih unggul. Namun, tantangan serupa—minimnya pembinaan atlet muda dari daerah tertinggal dan stigma sosial—juga menghantui. Keberhasilan Bangladesh mengirim atlet ke Asian Games bisa menjadi dorongan bagi Indonesia untuk lebih serius mengembangkan surfing sebagai cabang olahraga prestasi.
Mannan dan Akhter berharap penampilan mereka di Jepang bisa membuka mata dunia dan pemerintah Bangladesh bahwa surfing bukan sekadar hobi, melainkan profesi yang layak diperjuangkan. Pertanyaannya, mampukah mereka mengubah persepsi di tengah keterbatasan yang ada?



