Populasi Raksasa, Prestasi Nol: Mengapa Negara Berpenduduk Padat Gagal di Piala Dunia?
Baca dalam 60 detik
- Dari sepuluh negara terpadat di dunia, hanya Amerika Serikat dan Brasil yang lolos ke Piala Dunia 2026, menyisakan jutaan penggemar tanpa wakil.
- Faktor utama kegagalan bukanlah jumlah penduduk, melainkan kombinasi infrastruktur, pendapatan per kapita, dan pengalaman historis dalam sepak bola.
- Indonesia, India, dan Bangladesh masih terpuruk karena kurangnya investasi dan struktur pembinaan, meski antusiasme publik sangat tinggi.

Ketika Lionel Messi mencetak gol pertamanya di Piala Dunia 2026 pada pertengahan Juni lalu, ribuan orang berpesta di Dhaka, Bangladesh—bukan di Argentina. Mereka adalah warga lokal yang mengenakan kostum albiceleste, larut dalam euforia turnamen yang tak pernah diikuti negara mereka sendiri. Fenomena serupa terjadi di India dan Indonesia, di mana antusiasme terhadap Piala Dunia justru berbanding terbalik dengan prestasi tim nasional.
Dari sepuluh negara berpenduduk terbesar di dunia, hanya dua yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026: Amerika Serikat dan Brasil. Rusia dan Nigeria pernah tampil di beberapa edisi sebelumnya, namun China dan Indonesia hanya sekali merasakan Piala Dunia—China pada 2002, Indonesia pada 1938 saat masih bernama Hindia Belanda. Sementara India, Bangladesh, Ethiopia, dan Pakistan belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di turnamen terakbar sepak bola dunia. India sebenarnya lolos secara teknis ke Piala Dunia 1950, tetapi mengundurkan diri kurang dari sebulan sebelum kick-off.
Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar: mengapa jumlah penduduk yang besar tidak menjamin kesuksesan di sepak bola? Secara teori, semakin besar populasi, semakin banyak bakat potensial yang bisa direkrut. Namun kenyataannya, tujuh dari delapan negara yang pernah menjadi juara dunia—Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol—memang memiliki populasi relatif besar, tetapi faktor penentu sesungguhnya lebih kompleks.
Menurut ekonom olahraga Stefan Szymanski, penulis buku Soccernomics, sepak bola ibarat ekonomi nasional: butuh modal dan infrastruktur, bukan sekadar jumlah penduduk. "Dalam sepak bola, itu berarti fasilitas latihan dan kemampuan menemukan bakat," ujarnya. Szymanski menambahkan bahwa sebagian besar negara sukses juga memiliki pendapatan per kapita tinggi—setidaknya 15.000 dolar AS per tahun untuk bisa memenangkan sesuatu. Namun Brasil dan Argentina membantah teori itu: meski pendapatan per kapitanya jauh di bawah ambang tersebut, mereka telah mengoleksi delapan gelar juara dunia. Faktor ketiga yang membedakan, menurut Szymanski, adalah pengalaman atau know-how. Negara-negara yang dominan 100 tahun lalu—sebelum era dekolonisasi—cenderung masih berjaya hingga kini.
Hal ini menjelaskan mengapa Uruguay, dengan populasi hanya 3,5 juta, mampu menjuarai Piala Dunia 1930 dan 1950. Tim berjuluk La Celeste itu memainkan pertandingan internasional pertamanya pada 1902, 12 tahun sebelum Brasil. Sementara negara-negara Afrika dan Asia Selatan yang baru merdeka atau sepak bolanya berkembang belakangan harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan. Maroko, yang merdeka pada 1956, menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022. Korea Selatan, sebagai tuan rumah bersama 2002, menjadi satu-satunya wakil Asia yang finis di empat besar.
Namun Indonesia, India, dan Bangladesh masih jauh dari kata sukses. Szymanski menilai negara-negara ini kekurangan sumber daya dan kapasitas, bahkan jika investasi ditingkatkan, minimnya pengalaman tetap menjadi hambatan. Ethiopia, misalnya, belum pernah lolos ke Piala Dunia. Meski pernah menjuarai Piala Afrika 1962, peluang terbaiknya pupus di tangan Nigeria pada kualifikasi 2014. Saat ini, Liga Premier Ethiopia hanya memiliki tiga stadion yang disetujui untuk 380 pertandingan dalam satu musim—kondisi yang memaksa tim nasional bermain di Maroko.
Di India, dominasi kriket menjadi alasan klasik. Mantan pemain timnas India Shyam Thapa mengatakan kesuksesan Liga Premier India (IPL) membuat orang tua kelas menengah enggan mengarahkan anaknya ke sepak bola. Namun aktor dan penggemar sepak bola Bangladesh Audite Karim menepis anggapan itu: "Australia dan Selandia Baru berkembang di sepak bola meski juga kuat di kriket. Popularitas kriket hanyalah alasan. Kami tidak memiliki persiapan dan kerangka struktural yang dibutuhkan."
China menjadi teka-teki tersendiri. Negara itu sukses besar di Olimpiade, tetapi sepak bola pria mandek. Mark Dreyer, pakar sepak bola China, menuding intervensi politik sebagai biang keladi: "Di China, semuanya dikendalikan negara dan bersifat top-down. Keputusan sepak bola harus dibuat oleh orang sepak bola, bukan politikus." Investasi besar-besaran sejak 2010—termasuk mendatangkan bintang-bintang asing—belum membuahkan hasil. Indonesia punya cerita serupa: lolos ke putaran final kualifikasi 2026 lebih karena memanfaatkan pemain diaspora Eropa ketimbang pembinaan lokal. "Kadang ada delapan atau sembilan pemain kelahiran Eropa di starting XI Indonesia," ungkap Jerome Wirawan, Redaktur BBC Indonesia.
Pakistan dan Bangladesh tersingkir di fase grup kualifikasi Asia tanpa kemenangan. Pakistan bahkan tiga kali dilarang FIFA antara 2017 dan 2025 akibat konflik internal. Bagi penggemar di negara-negara ini, Piala Dunia mungkin hanya mimpi. "Melihat kenyataan, saya tidak melihat kemungkinan Bangladesh bermain di Piala Dunia seumur hidup saya," kata Karim. "Tapi penggemar sepak bola Bangladesh akan tetap menikmati setiap momen turnamen." Pertanyaannya, akankah negara-negara berpenduduk raksasa ini mampu membangun fondasi yang benar—atau akan terus menjadi penonton abadi?



