Harga Minyak Menguat di Tengah Negosiasi AS-Iran dan Sinyal Kenaikan Produksi OPEC+
Baca dalam 60 detik
- Minyak mentah Brent dan WTI naik tipis pada Jumat, didorong oleh optimisme kesepakatan AS-Iran dan ekspektasi OPEC+ akan menambah pasokan.
- Pasar masih waspada terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meskipun ada kemajuan diplomasi dan pemulihan arus minyak di Selat Hormuz.
- Keputusan OPEC+ pada akhir pekan ini akan menjadi penentu arah harga minyak global, yang berimplikasi pada biaya energi dan inflasi di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tipis pada akhir pekan lalu, saat pelaku pasar mencermati dua sinyal yang saling bertolak belakang: prospek gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta rencana OPEC+ untuk kembali menambah pasokan minyak pada Agustus mendatang. Pergerakan ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara permintaan dan pasokan masih rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Brent crude ditutup di level 72,21 dolar AS per barel, naik 0,6 persen dari posisi sebelumnya. Sementara itu, patokan AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,3 persen menjadi 68,98 dolar AS per barel. Volume perdagangan cenderung tipis karena pasar keuangan AS tutup dalam rangka Hari Kemerdekaan. Kenaikan ini terjadi setelah pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim negosiasi dengan Iran hampir mencapai kesepakatan. โKami sedang bernegosiasiโฆ Saya pikir mereka telah menyetujui hampir semua yang kami butuhkan,โ ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC.
Trump juga menegaskan bahwa AS tidak menginginkan perubahan rezim di Iran, melainkan hanya mencegah Tehran memiliki senjata nuklir. Namun, pernyataan tersebut dibarengi dengan pengakuan bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap Iran sebanyak tiga kali pekan lalu sebagai respons atas insiden drone yang menyerang kapal. Di sisi lain, mediator Qatar dan Pakistan mengumumkan bahwa putaran berikutnya perundingan AS-Iran akan digelar setelah upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari lalu.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada pertemuan virtual OPEC+ yang dijadwalkan pada Minggu, 5 Juli 2026. Aliansi produsen minyak diperkirakan akan menyetujui kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk Agustus, melanjutkan tren normalisasi pasokan. Analis menilai bahwa meskipun ada kemajuan diplomasi, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor risiko yang membayangi prospek pasokan minyak. Pemulihan bertahap aliran minyak melalui Selat Hormuz dan peningkatan produksi dari negara-negara Teluk memang telah meredakan kekhawatiran pasokan, tetapi belum cukup untuk mendorong harga lebih tinggi.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan inflasi. Kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit APBN jika harga keekonomian BBM bersubsidi terus membengkak. Sebaliknya, jika OPEC+ benar-benar menambah pasokan dan harga minyak cenderung stabil, beban subsidi bisa sedikit terkurangi. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi momok yang membuat pergerakan harga sulit diprediksi.
Ke depan, hasil pertemuan OPEC+ pada akhir pekan ini akan menjadi katalis utama pergerakan harga minyak dalam sepekan ke depan. Jika aliansi tersebut memutuskan untuk menambah produksi lebih besar dari perkiraan, harga berpotensi tertekan. Sebaliknya, jika ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, lonjakan harga bisa terjadi kapan saja. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia siap menghadapi volatilitas harga energi yang masih tinggi?



