Di Tengah Gejolak Global, Hery Gunardi Beberkan Strategi Perbankan Jaga Pertumbuhan Kredit
Baca dalam 60 detik
- Dana Pihak Ketiga perbankan tumbuh 10,8% yoy pada Mei 2026, mencapai Rp 9.698,7 triliun, menandakan kepercayaan masyarakat masih kuat.
- Group CEO BRI Hery Gunardi menegaskan perbankan nasional solid dengan pertumbuhan kredit double digit dan NPL terjaga, meski suku bunga acuan naik 100 bps.
- BRI menargetkan penyaluran KUR Rp 180 triliun pada 2026, fokus pada sektor produktif seperti pertanian dan perdagangan untuk mendorong UMKM naik kelas.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang mencapai 10,8 persen secara tahunan pada Mei 2026 menjadi sinyal bahwa intermediasi keuangan masih berjalan sehat di tengah tekanan ekonomi global. Bank Indonesia mencatat total DPK tembus Rp 9.698,7 triliun, angka yang menunjukkan bahwa likuiditas masyarakat masih melimpah dan kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional tetap terjaga.
Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, dalam diskusi ekonomi baru-baru ini mengungkapkan bahwa perbankan menghadapi tantangan dari kenaikan suku bunga acuan yang sudah naik 100 basis poin menjadi 5,75 persen. Namun, ia menegaskan bahwa sektor perbankan nasional tetap kuat, ditopang oleh pertumbuhan kredit double digit dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali. "Perbankan berperan sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana dan menyalurkannya dalam bentuk kredit. Dengan margin yang sehat, kami optimistis dapat terus mendorong pertumbuhan," ujarnya.
Strategi utama yang dijalankan perbankan saat ini adalah menekan biaya dana (cost of fund) di tengah kenaikan suku bunga. Selain itu, likuiditas yang masih longgar menjadi modal untuk mendukung program pemerintah dalam mendorong ekspansi bisnis dan kredit. Hery menambahkan bahwa meskipun ada pengetatan pasar akibat kenaikan BI rate dan yield Surat Berharga Negara, perbankan tetap waspada namun tidak pesimistis.
BRI, sebagai bank yang fokus pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Hery mengungkapkan bahwa sejak 2015, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih dari Rp 1.500 triliun. Pada 2026, perseroan menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp 180 triliun, yang akan difokuskan pada sektor produktif seperti pertanian dan perdagangan. "Kami ingin memastikan UMKM naik kelas melalui akses pembiayaan yang lebih luas dan pendampingan usaha," kata Hery.
Implikasi bagi perekonomian Indonesia cukup signifikan. Dengan perbankan yang masih agresif menyalurkan kredit, terutama ke sektor riil, pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap terjaga di kisaran 5 persen. Namun, risiko dari ketidakpastian globalโseperti perang dagang dan fluktuasi harga komoditasโtetap menjadi momok. Investor dan pelaku usaha perlu mencermati bagaimana bank mengelola spread suku bunga dan menjaga kualitas aset di tengah tekanan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah perbankan mampu mempertahankan pertumbuhan kredit double digit jika suku bunga terus naik? Hery Gunardi optimistis, namun mengingatkan bahwa koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi kunci. "Kami akan terus beradaptasi dengan kondisi pasar, tetapi fundamental perbankan Indonesia sangat kuat untuk menghadapi tantangan," pungkasnya.



