Bima Arya Dorong Wali Kota Gencarkan Inovasi demi PAD dan Pelayanan Publik
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya meminta kepala daerah mengadopsi kepemimpinan adaptif di tengah tekanan geopolitik dan janji politik.
- Peningkatan PAD tak cukup dengan teknologi saja; perlu reformasi tata kelola, digitalisasi tepat sasaran, dan kolaborasi lintas sektor.
- City branding dan sport tourism disebut sebagai strategi jitu untuk menarik investasi dan mengerek pendapatan asli daerah.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya inovasi dan kepemimpinan adaptif bagi para wali kota untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menjaga mutu layanan publik. Seruan itu disampaikan dalam Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Medan, Rabu (1/7), yang mengusung tema "Kota Tangguh Bangsa Berdaulat".
Menurut Bima, kepala daerah kini dihadapkan pada persoalan yang makin rumitโmulai dari gejolak global, implementasi kebijakan nasional, hingga tuntutan memenuhi janji kampanye. Kondisi ini, ujarnya, membutuhkan figur pemimpin yang lincah beradaptasi dan mampu menghadirkan solusi konkret. "Banyak cobaan dan ujian yang dihadapi kepala daerah hari ini. Namun, sejatinya jawabannya ada di Bapak-Ibu sendiri. Praktik-praktik terbaik itu ada di kawan-kawan kita sendiri," ujar Bima di hadapan para peserta.
Wamendagri menilai inovasi menjadi kunci agar pemerintah daerah tetap produktif di tengah tekanan. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan PAD tidak bisa hanya bertumpu pada adopsi teknologi. Reformasi tata kelola pendapatan, digitalisasi yang terukur, kerja sama lintas sektor, serta keterlibatan langsung kepala daerah dalam pelaksanaan menjadi syarat mutlak. "Best practices itu banyak. Pak Menteri juga sering menyebut kota-kota yang langsung melakukan langkah-langkah inovasi seperti Kota Malang dan Kota Pekanbaru," tegasnya.
Selain memperkuat sistem penerimaan daerah, Bima mengajak pemerintah kota membangun identitas atau city branding yang kuat. Menurutnya, citra kota bukanlah sekadar gimmick, melainkan alat untuk meningkatkan daya saing, memancing investasi, mengembangkan sektor pariwisata, dan pada akhirnya menambah PAD. Ia juga menyinggung potensi sport tourism sebagai peluang baru. Setiap kota, kata Bima, memiliki keunikan dan potensi yang berbeda sehingga perlu dikembangkan melalui kolaborasi antara pemda, komunitas, dan pelaku kreatif.
Di akhir paparannya, Bima mengingatkan para wali kota untuk menjaga integritas, memperkuat koordinasi dengan Kemendagri, dan terus belajar dari praktik terbaik antardaerah. Kolaborasi dan kepemimpinan inovatif, menurutnya, menjadi modal utama bagi pemerintah kota dalam menghadapi tantangan ke depan. Pertanyaannya, sejauh mana para kepala daerah mampu menerjemahkan dorongan ini menjadi kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat?



