Pete Hary Pimpin Connecticut Boxing Hall of Fame, Siap Lanjutkan Warisan 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pete Hary terpilih sebagai presiden Connecticut Boxing Hall of Fame menggantikan John Laudati, membawa pengalaman sebagai juri profesional dan mantan ofisial amatir.
- Dukungan datang dari berbagai kalangan, termasuk penulis Mark Allen Baker dan mantan wasit Joe Cusano, yang menilai Hary memiliki visi dan dedikasi untuk memperluas program organisasi.
- Gala induksi ke-20 akan digelar 10 Oktober di Mohegan Sun Casino, menjadi ajang pembuktian kepemimpinan Hary di tahun pertamanya.

Pete Hary, juri profesional senior dan mantan ofisial amatir, resmi terpilih sebagai presiden Connecticut Boxing Hall of Fame (CTBHOF). Ia menggantikan John Laudati dan akan memimpin organisasi yang telah berdiri selama dua dekade tersebut. Pemilihan ini menandai babak baru bagi lembaga yang konsisten mengapresiasi sejarah tinju di Connecticut.
Hary bukan sosok baru di dunia tinju. Sejak 2001 hingga 2008, ia aktif sebagai ofisial amatir sebelum beralih menjadi juri profesional pada 2008. Pengalamannya sebagai juri telah dipercaya di berbagai pertandingan, termasuk beberapa laga kelas berat. Kini, ia dipercaya mengemban tanggung jawab lebih besar: menjaga keberlanjutan CTBHOF di tengah dinamika olahraga tinju modern.
Dalam pernyataannya, Hary menyatakan komitmennya untuk melanjutkan tradisi organisasi dalam merayakan sejarah tinju sekaligus memperkuat program bantuan sosial bagi komunitas tinju yang membutuhkan. “Menjadi presiden berarti meneruskan 20 tahun sejarah organisasi dalam mengakui dan menghormati masa lalu olahraga kami, sambil membantu komunitas tinju melalui program amal kami,” ujarnya.
Dukungan mengalir dari berbagai pihak. Mark Allen Baker, penulis produktif dan inductee CTBHOF 2023, menilai Hary membawa talenta dan pengalaman besar. “Saya yakin kreativitas dan visinya akan memperluas penawaran kami, seperti sponsor turnamen dan merchandise. Energinya menular dan dia selalu menyenangkan untuk diajak bekerja sama,” kata Baker.
Mantan wasit profesional Joe Cusano, yang diinduksi tahun lalu, menyebut kepemimpinan Hary sebagai era baru. “Peter Hary melangkah ke peran barunya dengan dukungan seumur hidup dan gairah sejati untuk olahraga ini. Dia figur yang dihormati di komunitas amatir dan profesional, telah membuktikan dedikasinya melalui pelayanan sebagai ofisial dan juri,” ujar Cusano. Ia menambahkan bahwa pengetahuan Hary tentang sejarah tinju Connecticut tak tertandingi.
“Saya merasa terhormat diberikan kesempatan melayani organisasi ini dan melanjutkan warisan yang telah dibangun pendahulu kami. Connecticut memiliki sejarah tinju yang luar biasa, dan menjadi tanggung jawab kami untuk melestarikannya,” kata Hary.
Kiprah Hary di dunia tinju tidak lepas dari pengaruh sang ayah, Peter Hary Sr. Sejak kecil, ia diajak menonton pertandingan, termasuk laga pay-per-view Mike Tyson, dan menjadi langganan di Mohegan serta Foxwoods. Pertandingan besar pertama yang mereka saksikan bersama adalah duel Riddick Bowe vs Andrew Golota di Atlantic City. Hary Jr. mengidolakan Bowe, sementara ayahnya mengagumi Evander Holyfield. “Tidak ada yang lebih baik daripada menonton pertandingan sambil minum bir bersama sahabat. Saya beruntung orang itu adalah ayah saya,” kenangnya.
Kedekatan dengan sang ayah juga terlihat dalam setiap gala CTBHOF. Tahun ini, Peter Hary Sr. akan menyaksikan putranya memimpin acara tersebut. “Ayah saya selalu mendukung setiap pencapaian saya. Harapan saya hanya agar dia bangga,” ujar Hary.
Cassius Chaney, petinju kelas berat yang beberapa pertandingannya dinilai Hary, menyampaikan apresiasi. “Dedikasi Anda pada keadilan dan aturan tinju sangat jujur, membuat pencapaian ini pantas. Saya berharap kesuksesan berlanjut di posisi baru,” kata Chaney.
Bagi publik Indonesia, kepemimpinan Hary di CTBHOF mungkin tampak jauh dari hiruk-pikuk tinju nasional. Namun, dinamika di Connecticut bisa menjadi cermin bagaimana organisasi tinju di daerah membangun warisan dan komunitas. Indonesia memiliki banyak legenda tinju lokal yang belum terdokumentasi dengan baik. Model CTBHOF—yang menggabungkan penghormatan sejarah, program sosial, dan keterlibatan aktif para pelaku—bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan hall of fame atau museum olahraga di tanah air. Selain itu, peran Hary sebagai juri profesional menunjukkan pentingnya integritas dan penegakan aturan, isu yang kerap menjadi sorotan di dunia tinju internasional, termasuk di Indonesia.
Dengan gala induksi yang tinggal menghitung hari, mata akan tertuju pada Mohegan Sun Casino. Akankah Hary mampu membawa CTBHOF ke level berikutnya? Dan bagaimana ia menyeimbangkan tradisi dengan inovasi di tengah perubahan lanskap tinju global? Publik menantikan gebrakannya.



