Kisah Kiper Paraguay yang Jual Perlengkapan demi Bayi Prematur, Kini Jadi Pahlawan Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Orlando Gill, kiper Paraguay setinggi 198 cm, menjadi pahlawan adu penalti melawan Jerman di Piala Dunia setelah menyelamatkan dua tendangan.
- Empat tahun lalu, Gill terpaksa menjual perlengkapan sepak bolanya untuk biaya perawatan anaknya yang lahir prematur dan kritis.
- Karier Gill melesat dari hanya tiga penampilan senior klub hingga menjadi kiper utama Paraguay di Piala Dunia 2026.

Orlando Gill, kiper Paraguay yang nyaris tak dikenal, mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia setelah menjadi pahlawan adu penalti melawan Jerman, Senin lalu. Dua penyelamatan gemilangnya membawa Paraguay melaju ke babak 16 besar untuk kedua kalinya sepanjang partisipasi mereka di turnamen ini.
Kiper berusia 26 tahun dengan tinggi 198 sentimeter ini hanya kebobolan satu gol dalam tiga pertandingan terakhir, termasuk saat melawan Jerman hingga babak perpanjangan waktu. Statistiknya impresif: 16 dari 17 tembakan tepat sasaran berhasil digagalkan. Namun, perjalanan Gill menuju puncak tidaklah mulus. Hingga Januari 2025, ia baru mencatat tiga penampilan senior bersama klub.
Kisah pilu terjadi pada akhir 2022, saat istrinya, Melissa Avalos, mengalami komplikasi kehamilan. Bayi mereka, Lautaro, diperkirakan lahir pada 31 Desember, tetapi Melissa dirawat inap pada 30 November dan diinduksi pada 7 Desember. Proses persalinan berlangsung dramatis: Melissa menjalani operasi darurat, sementara Lautaro dirawat intensif. Keluarga itu akhirnya bisa pulang saat Natal, tetapi dalam kondisi nyaris tanpa apa-apa.
"Kami tidak punya apa-apa, dan Orlando menjual perlengkapan klubnya untuk menutupi biaya," tulis Melissa di Instagram tahun lalu. "Dia menjual segalanya: pakaian, sepatu, bahkan jersey tim nasional U20 yang seharusnya menjadi kenangan."
Setahun setelah kelahiran putranya, peluang besar datang. Klub Argentina, San Lorenzo, merekrutnya dengan status pinjaman. Awalnya hanya bermain di tim cadangan, Gill perlahan menembus tim utama pada 2025. Performa apiknya menarik perhatian pelatih timnas Paraguay, Gustavo Alfaro. Debut internasionalnya terjadi pada September 2025 dalam laga kualifikasi melawan Peru, setelah Paraguay dipastikan lolos ke Piala Dunia.
Gill kemudian menjadi kiper utama dalam lima laga uji coba. Meski debut Piala Dunianya berakhir dengan kekalahan 4-1 dari tuan rumah Amerika Serikat, ia bangkit dengan hanya kebobolan satu gol dalam tiga laga berikutnya. Dalam adu penalti melawan Jerman, ia melakukan dua penyelamatan krusial yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan versi FIFA.
Penghargaan itu ia persembahkan untuk keponakannya, Alexander, yang sedang dirawat di rumah sakit di Paraguay. "Alexander, piala ini untukmu. Semoga kamu lekas sembuh. Pamanmu mendukungmu dari jauh," ujar Gill usai pertandingan.
Kisah Gill menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap Piala Dunia, ada perjuangan personal yang luar biasa. Bagi Indonesia, perjalanan Gill bisa menjadi inspirasi bagi para atlet muda yang berjuang dari keterbatasan. Di tengah gempuran berita transfer pemain dan rivalitas antarklub, kisah seperti ini menunjukkan sisi humanis sepak bola yang sering terlupakan.
Paraguay kini bersiap menghadapi lawan di babak 16 besar. Pertanyaannya, mampukah Gill mempertahankan performa fenomenalnya dan membawa La Albirroja melangkah lebih jauh? Ataukah ini hanya kilas balik singkat dari seorang kiper yang pernah menjual perlengkapannya demi bertahan hidup?



