Enzo Maresca Resmi Tangani Manchester City: Warisan Guardiola dan Tantangan Besar di Depan
Baca dalam 60 detik
- Enzo Maresca, mantan asisten Pep Guardiola, resmi menandatangani kontrak tiga tahun sebagai pelatih kepala Manchester City, menggantikan Guardiola yang hengkang setelah satu dekade penuh trofi.
- Maresca membawa filosofi sepak bola penguasaan bola yang mirip Guardiola, namun dengan sentuhan taktik Italia dan Spanyol, serta rekam jejak sukses di Leicester dan Chelsea meski sempat menuai kritik.
- Tugas utama Maresca adalah mempertahankan budaya juara City, mengamankan kontrak baru Rodri, dan meramu skuad dengan rekrutan anyar seperti Elliot Anderson, sambil menghadapi ekspektasi tinggi dari klub dan suporter.

Manchester City resmi menunjuk Enzo Maresca sebagai pelatih kepala baru menggantikan Pep Guardiola, menandai era baru di Etihad Stadium setelah satu dekade dominasi sang maestro Spanyol. Mantan asisten Guardiola yang membawa City meraih treble pada 2022-2023 itu menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun, sebuah langkah berani yang diyakini klub sebagai kelanjutan filosofi sepak bola penguasaan bola yang sudah mengakar.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan matang. Ketua Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, secara terbuka memuji Maresca sebagai sosok yang tidak hanya menyerap inspirasi dari Guardiola tetapi juga mengembangkan filosofinya sendiri. โDia adalah salah satu asisten Pep, dan Anda bisa melihat pengaruh itu dalam permainannya. Tapi dia juga punya ide sendiri,โ ujar Khaldoon. Yang menarik, Maresca disebut mendapat rekomendasi langsung dari direktur olahraga yang akan pensiun, Txiki Begiristain, sebagai pewaris takhta Guardiola. Hubungan dekat antara Maresca dan Guardiola juga menjadi faktor kunci; keduanya diketahui tetap berkomunikasi rutin, dan Guardiola disebut memberikan restu atas penunjukan ini.
Maresca, 46 tahun, bukanlah nama asing di dunia kepelatihan. Karier manajerialnya melesat cepat: dari menangani tim Elite Development City, membawa Leicester promosi ke Premier League, hingga menangani Chelsea dan memenangi Piala Dunia Antarklub serta Liga Konferensi Eropa dalam satu musim. Namun, tugasnya kali ini jauh lebih berat: menggantikan Guardiola yang mempersembahkan 20 trofi dalam 10 tahun. โIni tantangan besar yang membuat banyak orang mundur. Keindahan Enzo adalah dia justru menginginkan tantangan itu,โ tambah Khaldoon.
Gaya bermain Maresca sangat dipengaruhi oleh pengalamannya di Spanyol dan Italia. Ia tumbuh dengan menyaksikan Barcelona era Guardiola saat bermain untuk Sevilla dan Malaga, dan kemudian belajar dari Manuel Pellegrini yang dijuluki โayah sepak bolaโ-nya. Formasi 4-2-3-1 menjadi andalannya, dengan tekanan pada penguasaan bola, pressing tinggi, dan rotasi posisi yang cair. Namun, kritik sempat muncul karena permainan dianggap terlalu lambat dalam membangun serangan. Meski begitu, Maresca kerap menunjukkan kecerdasan taktik, seperti saat memainkan Malo Gusto sebagai full-back tumpang tindih di final Piala Dunia Antarklub yang membuka ruang bagi Cole Palmer.
Di luar lapangan, Maresca dikenal sebagai pemikir dalam. Ia pernah menulis tesis 7.000 kata tentang kesamaan antara sepak bola dan catur di Institut Coverciano Italia. Ia juga rajin berdiskusi dengan pelatih voli Julio Velasco dan pelatih basket Ettore Messina, serta mempelajari kecerdasan buatan. Filsuf favoritnya, Rene Descartes, dan buku Football and Chess karya Adam Wells menjadi bacaan selama liburan keluarga. Pendekatan intelektual ini diharapkan membawa dimensi baru bagi City.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah Maresca menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa mempertahankan identitas permainan meski berganti pelatih. City, yang dimiliki oleh Abu Dhabi United Group, menjadi contoh bagaimana perencanaan suksesi yang matang dapat menjaga stabilitas. Di tengah gencarnya investasi klub-klub Eropa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, konsistensi filosofi seperti ini bisa menjadi tolok ukur bagi pengembangan sepak bola nasional.
Ke depan, Maresca harus segera menyelesaikan beberapa agenda krusial: mengamankan masa depan Rodri yang kontraknya tersisa setahun, memutuskan kiper utama antara Gianluigi Donnarumma atau James Trafford, serta mengintegrasikan rekrutan anyar seperti Elliot Anderson. Dengan jadwal pramusim dimulai 20 Juli, waktu persiapan sangat terbatas. Akankah Maresca mampu mempertahankan supremasi City di Premier League dan Eropa, atau justru terseok di bawah bayang-bayang Guardiola? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



