Jejak Karbon Bos FIFA: 27 Penerbangan Jet Pribadi Selama Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino diperkirakan telah menempuh lebih dari 50.000 km dengan jet pribadi selama fase grup Piala Dunia 2026, menghasilkan emisi setara 78 orang setahun.
- Jejak karbon ini bertolak belakang dengan komitmen FIFA untuk mengurangi emisi 50% pada 2030 dan mencapai net-zero pada 2040.
- Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi turnamen paling polutan dalam sejarah, dengan total emisi mencapai 9 juta ton CO2e.

Presiden FIFA Gianni Infantino menghadiri 24 pertandingan dalam dua pekan pertama Piala Dunia 2026 yang tersebar di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—sebuah pencapaian yang dibayar dengan jejak karbon yang sangat besar. Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang dihimpun BBC Verify dan BBC Sport, jet pribadi yang diduga digunakan Infantino telah melakukan 27 penerbangan dengan total jarak tempuh lebih dari 50.000 kilometer, menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan 516 ton CO2e—angka yang sebanding dengan emisi tahunan 78 orang rata-rata global.
Jadwal Infantino selama turnamen sangat padat. Ia kerap menghadiri dua pertandingan sehari di kota yang berjarak ratusan kilometer, bahkan tiga penerbangan dalam sehari. Puncaknya pada 15 Juni, ia terbang dari Miami ke Seattle (4.000 km) untuk menyaksikan Belgia vs Mesir, lalu melanjutkan perjalanan ke Los Angeles (1.545 km) untuk menonton Iran vs Selandia Baru. Penerbangan terpanjangnya adalah rute Vancouver-Miami sejauh 4.507 km pada 13 Juni. Sementara itu, pada 22 Juni ia hanya terbang 148 km dari Philadelphia ke New Jersey untuk wawancara di Fox News sebelum kembali ke Boston dan Toronto.
Jet yang digunakan diperkirakan adalah Gulfstream G650ER, pesawat dengan konsumsi bahan bakar rata-rata 1.817 liter per jam. Selama 66 jam terbang, pesawat ini membakar bahan bakar yang menghasilkan emisi setara 516 ton CO2e. Angka ini dihitung berdasarkan konversi gas rumah kaca pemerintah Inggris, termasuk efek tidak langsung dari penerbangan. Sebagai perbandingan, rata-rata emisi tahunan per orang global adalah 6,56 ton CO2e menurut data Uni Eropa.
FIFA, dalam strategi keberlanjutan Piala Dunia 2026, berkomitmen mengurangi emisi 50% pada 2030 dan mencapai net-zero pada 2040. Namun, penggunaan jet pribadi oleh presidennya menuai kritik. Freddie Daley dari Cool Down, jaringan aksi iklim olahraga, menyebut tindakan Infantino "sangat bertentangan dengan kepemimpinan yang diperlukan dalam isu lingkungan." Denise Auclair, pakar perjalanan berkelanjutan dari European Federation for Transport and Environment, menambahkan bahwa jet pribadi menghasilkan polusi 5–14 kali lebih besar dibanding pesawat komersial dan 50 kali lebih besar dibanding kereta api.
FIFA membela langkah Infantino dengan alasan efisiensi dan efektivitas biaya. Juru bicara FIFA menyatakan bahwa presiden sering bepergian bersama pejabat terkait untuk urusan bisnis dan turnamen, dan kadang menggunakan penerbangan komersial. Namun, FIFA tidak merinci berapa banyak penerbangan yang menggunakan maskapai komersial, jumlah penumpang di jet pribadi, atau apakah emisi tersebut dikompensasi.
Kontras dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang seluruh stadionnya berjarak tempuh maksimal satu jam berkendara, Piala Dunia 2026 yang tersebar di tiga negara menghadirkan tantangan logistik dan lingkungan yang jauh lebih besar. Laporan Scientists for Global Responsibility (SGR) pada 2025 memperkirakan jejak karbon turnamen ini mencapai 9 juta ton CO2e—hampir dua kali lipat rata-rata empat Piala Dunia sebelumnya, menjadikannya turnamen paling polutan dalam sejarah. Sebelumnya, pada 2023, regulator Swiss menyatakan FIFA "membuat pernyataan palsu" terkait klaim netral karbon Piala Dunia 2022 Qatar.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan infrastruktur olahraga dan berpotensi menjadi tuan rumah event internasional, kasus ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara ambisi penyelenggaraan dan tanggung jawab lingkungan. Dengan komitmen pemerintah mencapai net-zero pada 2060, praktik perjalanan pejabat tinggi di event global semacam ini patut menjadi bahan evaluasi. Apakah FIFA akan benar-benar menepati janji lingkungannya, atau justru terus menambah beban karbon bumi?



