Burnham Ingin Hapus Triple Lock Pensiun Inggris demi Biayai Layanan Sosial
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham mengonfirmasi akan menghapus mekanisme triple lock pensiun setelah pemilu berikutnya jika terpilih.
- Perubahan ini diproyeksikan menghemat miliaran pound yang akan dialokasikan untuk membangun National Care Service.
- Kebijakan ini berisiko memicu perlawanan politik dari kelompok pensiunan dan partai oposisi.

Andy Burnham, politikus senior Partai Buruh Inggris, secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengakhiri skema triple lock pada pensiun negara setelah pemilihan umum mendatang. Dalam pidatonya di konferensi partai di Liverpool, ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut hanya akan dipertahankan hingga parlemen saat ini berakhir, dan setelah itu pensiun negara akan naik mengikuti inflasi atau minimal 2,5 persen per tahun, serta tetap menjaga nilainya terhadap pertumbuhan upah dalam jangka panjang.
Langkah ini diambil untuk mendanai pembentukan National Care Service, sebuah sistem perawatan sosial yang ambisius. Burnham mengklaim bahwa perubahan ini akan menghasilkan penghematan signifikan, yang kemudian akan dialokasikan untuk membangun layanan tersebut. Ia juga menyoroti bahwa saat ini banyak pensiunan dengan penghasilan terbatas masih harus membayar biaya perawatan, dan di bawah rencananya, beban tersebut akan dihapus.
Kebijakan triple lock sendiri telah lama menjadi kontroversi di Inggris. Mekanisme ini menjamin kenaikan pensiun sebesar inflasi, rata-rata pertumbuhan upah, atau 2,5 persen, mana yang tertinggi. Meskipun populer di kalangan pensiunan, biaya fiskalnya dianggap semakin tidak berkelanjutan. Burnham berargumen bahwa reformasi ini diperlukan untuk memastikan keberlanjutan sistem pensiun dan perawatan sosial di masa depan.
Reaksi terhadap usulan ini diperkirakan akan beragam. Kelompok yang mewakili kepentingan pensiunan mungkin akan menentang keras, sementara mereka yang mendukung reformasi kesejahteraan akan menyambut baik langkah ini sebagai terobosan yang berani. Partai oposisi diperkirakan akan memanfaatkan isu ini untuk menyerang Buruh menjelang pemilu.
"Perubahan ini akan menghasilkan penghematan signifikan, yang akan kami gunakan untuk membangun National Care Service," ujar Burnham dalam pidatonya.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menawarkan pelajaran berharga tentang dilema antara populisme pensiun dan keberlanjutan fiskal. Indonesia sendiri tengah menghadapi tantangan serupa dengan sistem jaminan sosial dan pensiun yang masih dalam tahap pengembangan. Reformasi yang dilakukan Inggris dapat menjadi referensi, meskipun dengan catatan bahwa konteks politik dan ekonomi kedua negara sangat berbeda. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap kebijakan pensiun, terutama dengan populasi usia lanjut yang terus meningkat.
Ke depan, pertanyaan utamanya adalah apakah Burnham akan mampu meyakinkan publik dan partainya untuk menerima perubahan yang tidak populer ini. Jika berhasil, ia bisa menjadi pionir reformasi kesejahteraan di Inggris. Namun, jika gagal, ia berisiko kehilangan dukungan dari basis pemilih tradisional Buruh. Yang jelas, debat tentang pensiun dan perawatan sosial akan menjadi salah satu isu sentral dalam pemilu mendatang.



