Penulis Avengers: Endgame Ungkap Black Widow Nyaris Tak Jadi Korban, Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Stephen McFeely mengungkap bahwa adegan pengorbanan di Vormir hampir menampilkan Hawkeye sebagai korban, bukan Black Widow.
- Tekanan dari karyawan Marvel Studios menjadi faktor kunci yang membatalkan ide tersebut.
- Versi Encore yang tayang 2026 menyisipkan adegan baru untuk menjembatani cerita menuju Avengers: Doomsday.

Penulis skenario Avengers: Endgame, Stephen McFeely, membuka fakta mengejutkan bahwa adegan pengorbanan di planet Vormir hampir memiliki akhir yang berbeda. Dalam sesi tanya jawab setelah penayangan versi Encore, McFeely mengungkap bahwa Hawkeye sempat direncanakan menjadi sosok yang tewas, bukan Black Widow. Pengungkapan ini muncul di tengah persiapan Marvel menuju Avengers: Doomsday yang dijadwalkan rilis Desember 2026.
Menurut McFeely, keputusan awal untuk mengorbankan Black Widow didasari oleh kebutuhan naratif: dua karakter yang memiliki ikatan emosional kuat harus menjadi kunci untuk mendapatkan Soul Stone. Hubungan platonis antara Natasha Romanoff dan Clint Barton dianggap sebagai pasangan yang tepat. Namun, muncul keraguan tentang menghilangkan salah satu pahlawan wanita utama di MCU. "Karena ini bukan hal kecil untuk membunuh karakter wanita utama di MCU, kami mencoba versi di mana Hawkeye yang mati," ujar McFeely. Reaksi keras datang dari sejumlah karyawan perempuan di Marvel Studios yang menentang ide tersebut. Mereka berpendapat bahwa momen heroik Black Widow tidak boleh dialihkan kepada Hawkeye. McFeely pun mengakui bahwa argumen itu sangat kuat dan mengubah arah cerita.
Selain itu, McFeely menyatakan penyesalan terbesarnya adalah kurangnya ruang untuk memberikan penghormatan yang layak bagi Natasha setelah kematiannya. "Pengorbanan itu terjadi di akhir babak kedua, sehingga masih banyak film yang harus berjalan. Kami tidak punya banyak waktu untuk berkabung karena harus mengembalikan semua orang dan menghadapi Thanos," jelasnya. Alur yang padat membuat momen emosional tersebut terasa singkat, meskipun tetap menjadi salah satu titik paling ikonik dalam film.
Versi Encore bukan sekadar rilis ulang. Film ini menyisipkan tiga adegan penting yang menghubungkan langsung dengan Doomsday: kemunculan varian Loki tahun 2012 di akhir yang diperpanjang, penculikan Bruce Banner oleh Doctor Doom, dan deteksi "incursion" oleh Time Variance Authority yang menandakan keruntuhan multiverse. Adegan-adegan ini berfungsi sebagai jembatan naratif yang memperkuat keterkaitan antarfilm.
"Saya ingin membuat penonton merasakan sakit yang paling dalam. Tapi juga, dalam gambaran besar, Natasha memiliki catatan merah dalam hidupnya dan telah berusaha menebusnya. Ketika dia menemukan Avengers, mereka menjadi keluarga barunya. Jadi, gagasan bahwa dia bisa menyelamatkan keluarganya adalah hal yang sangat penting," tutur McFeely.
Keputusan untuk mempertahankan kematian Black Widow tidak hanya berdampak pada alur cerita, tetapi juga pada representasi gender di Hollywood. Insiden ini menunjukkan bahwa suara karyawan di balik layar dapat mempengaruhi keputusan kreatif yang besar. Bagi industri film Indonesia, kisah ini menjadi cermin bahwa diskusi internal tentang representasi dan keadilan gender semakin relevan, terutama dalam produksi film berskala besar. Perubahan naskah yang sensitif terhadap masukan dari dalam tim dapat menghasilkan cerita yang lebih bermakna dan diterima penonton.
Dengan dirilisnya Encore, Marvel seakan memberi petunjuk tentang arah multiverse yang akan berujung pada Doomsday. Pertanyaannya, akankah pengorbanan Black Widow tetap menjadi momen paling menentukan, atau justru adegan-adegan baru ini yang akan mengubah cara penonton memaknai perjalanan para pahlawan?



