Jamie Dimon Tawarkan 'Satu Kesepakatan Besar' AS-Eropa, Sinyal Perang Dagang Mulai Reda?
Baca dalam 60 detik
- CEO JPMorgan Jamie Dimon mengusulkan pakta perdagangan bebas dan ekonomi komprehensif antara AS dan Eropa sebagai imbalan reformasi struktural.
- Usulan ini kontras dengan kebijakan tarif proteksionis pemerintahan Trump yang tengah memanaskan hubungan dengan mitra dagang utama.
- Jika terwujud, aliansi dagang diperluas ke Kanada, Meksiko, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina berpotensi membentuk blok ekonomi baru penyeimbang dominasi China.

CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, melontarkan gagasan besar yang bisa mengubah arah hubungan ekonomi Barat: Amerika Serikat diminta menawarkan pakta perdagangan bebas dan kerja sama ekonomi menyeluruh kepada Eropa, dengan syarat blok itu menuntaskan reformasi struktural yang selama ini tertunda. Usulan tersebut disampaikan Dimon melalui opini di The Wall Street Journal, Senin (29/9/2026), dan langsung menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan kebijakan tarif proteksionis yang sedang dijalankan Gedung Putih.
Dalam tulisannya, Dimon menegaskan bahwa Eropa perlu segera membenahi persaingan ekonominya, termasuk menyelesaikan Capital Markets Union dan Banking Union yang telah lama mandek. Ia juga mendesak implementasi rekomendasi laporan Draghiโsebuah peta jalan yang disusun mantan Perdana Menteri Italia Mario Draghi untuk meningkatkan daya saing Uni Eropa. Menurut Dimon, tanpa langkah itu, Eropa akan terus kehilangan relevansi di panggung global.
Yang menarik, tawaran ini muncul di tengah ketegangan dagang yang memanas. Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah gencar menerapkan tarif impor dan taktik negosiasi agresif terhadap sejumlah mitra utama, termasuk Uni Eropa dan Kanada. Hubungan Washington dengan Ottawa dan Brussel pun merenggang. Di titik inilah Dimon menawarkan alternatif: bukan konfrontasi, melainkan integrasi.
"Saya yakin AS harus menawarkan insentif besar kepada Eropa: jika mereka menjalankan reformasi ekonomi dan militer yang bermakna, termasuk semua yang kami anggap krusial bagi keamanan dan ketahanan, AS akan menegosiasikan satu kesepakatan ekonomi dan perdagangan bebas yang besar dan indah dengan Eropa," tulis Dimon.
Ia menambahkan bahwa pakta semacam itu bisa diperluas ke negara-negara demokrasi sahabat seperti Kanada, Meksiko, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina. Menurutnya, integrasi perdagangan yang mulus akan menjadi game changer, memungkinkan Amerika dan sekutunya menetapkan aturan perdagangan global serta memperkuat front bersama dalam menghadapi tekanan otoriter.
Bagi Indonesia, gagasan Dimon ini bukan sekadar wacana transatlantik. Jika blok dagang besar itu terbentuk, tatanan perdagangan global bisa terbelah menjadi dua kutub: satu blok Barat yang terintegrasi, dan satu blok China beserta mitranya. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan mitra dagang penting bagi kedua pihak, akan menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, akses ke pasar Barat yang lebih terbuka bisa menguntungkan ekspor manufaktur dan komoditas. Di sisi lain, Indonesia berisiko terjepit dalam persaingan pengaruh yang semakin tajam.
Ekonom senior dari lembaga riset independen menilai bahwa usulan Dimon lebih mencerminkan kepentingan korporasi global yang menginginkan kepastian lintas batas. "Dunia usaha selalu menginginkan aturan yang jelas dan tarif rendah. Tapi realitas politik sering kali tidak sejalan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Indonesia perlu memperkuat posisi di forum regional seperti ASEAN dan RCEP agar tidak sekadar menjadi penonton.
Dimon sendiri bukan kali pertama mengkritik Eropa. Tahun lalu, dalam sebuah acara di Irlandia, ia blak-blakan mengatakan bahwa dibandingkan AS dan Asia, Eropa sedang kalah. Kritik itu kini dibungkus dalam proposal konkret: sebuah grand bargain yang, menurutnya, bisa menjadi home run geopolitik dan ekonomi, menjamin kekuatan dunia Barat untuk 250 tahun ke depan.
Namun, jalan menuju kesepakatan itu tidak mulus. Eropa masih bergulat dengan fragmentasi politik, kepentingan nasional yang saling bertabrakan, dan ketergantungan energi pada pihak luar. Sementara di AS, proteksionisme telah menjadi arus utama di kedua partai. Pertanyaannya, apakah visi Dimon hanya akan menjadi opini elite, atau mampu mendorong perubahan kebijakan nyata? Dalam setahun ke depan, kita akan melihat apakah gagasan ini menguap begitu saja atau justru menjadi benih aliansi baru yang mengubah peta ekonomi dunia.



