Di Ambang Lengser: Presiden Serbia Vucic Umumkan Mundur dalam Hitungan Pekan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Serbia Aleksandar Vucic menyatakan akan mundur dalam beberapa pekan dan menggelar pemilu dini setelah gelombang protes mahasiswa yang berlangsung lebih dari setahun.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya pre-emptive untuk mengamankan posisi partainya di tengah tuntutan reformasi dan pemberantasan korupsi yang meluas.
- Keputusan Vucic membuka babak baru politik Serbia, namun tantangan besar masih membayangi, termasuk syarat perbaikan rule of law untuk aksesi Uni Eropa.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic, yang telah memimpin negara Balkan itu selama 13 tahun, mengumumkan bahwa dirinya akan meletakkan jabatan dalam hitungan pekan dan meminta diadakannya pemilihan presiden serta parlemen lebih awal dari jadwal. Pengumuman yang disampaikan di hadapan pendukungnya di Belgrade, Sabtu (27/6), menjadi puncak dari tekanan politik yang terus meningkat akibat demonstrasi anti-pemerintah yang dipimpin mahasiswa.
Gelombang protes yang berlangsung sejak akhir 2024 dipicu oleh tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Novi Sad yang menewaskan 16 orang. Insiden itu memicu kemarahan publik dan tuduhan bahwa pemerintah gagal mengelola proyek konstruksi serta maraknya praktik korupsi. Mahasiswa dan kelompok oposisi menuntut pemilu dini sebagai syarat untuk membersihkan sistem politik dari apa yang mereka sebut sebagai "cengkeraman oligarki".
Dalam pidatonya, Vucic menegaskan bahwa ia akan membantu partainya, Partai Progresif Serbia (SNS), untuk memenangkan kontestasi pemilu yang dipercepat. Namun, ia tidak merinci tanggal pasti pengunduran dirinya maupun kapan parlemen akan dibubarkan—sebuah langkah prosedural yang diperlukan sebelum pemilu legislatif dapat digelar. Masa jabatan Vucic seharusnya berakhir pada pertengahan 2027.
Langkah Vucic mendapat respons beragam. Savo Manojlovic, pemimpin gerakan oposisi mahasiswa Move-Change, menilai pengunduran diri itu sebagai upaya untuk mengantisipasi kekalahan yang tak terhindarkan. "Dengan mengundurkan diri dan menggelar pemilu dini, Vucic berusaha mendahului kejatuhannya sendiri, karena gerakan mahasiswa kini memiliki dukungan lebih besar darinya," ujarnya. Di sisi lain, para pengamat menilai bahwa Vucic masih memiliki kendali kuat atas aparat negara dan media, sehingga pemilu dini belum tentu membawa perubahan fundamental.
Bagi Indonesia, dinamika politik Serbia memberikan pelajaran tentang pentingnya tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam hal pemberantasan korupsi dan penguatan lembaga peradilan. Kasus Serbia menunjukkan bahwa tekanan publik yang berkelanjutan dapat memaksa pemimpin untuk merespons, meskipun hasil akhirnya masih bergantung pada kesiapan institusi dan partisipasi politik yang sehat.
Ke depan, Serbia harus memenuhi persyaratan Uni Eropa, termasuk perbaikan kondisi pemilu yang bebas dan adil, pemberantasan korupsi, serta penyelarasan kebijakan luar negeri—seperti sanksi terhadap Rusia. Pertanyaan besarnya adalah: akankah pemilu dini benar-benar membuka jalan bagi reformasi, atau justru menjadi alat bagi Vucic untuk memperpanjang pengaruhnya melalui kendali atas partai dan mesin birokrasi?



