Format Baru Piala Dunia 2026: Lebih Banyak Tim Lolos, Tapi Kualitas Grup Stage Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 menggunakan head-to-head sebagai tiebreaker pertama dan sistem peringkat ketiga, menyebabkan delapan tim sudah pasti tersingkir atau lolos setelah dua pertandingan.
- Perubahan ini memicu kekhawatiran akan laga 'mati' dan potensi tim kuat merotasi pemain, seperti Argentina dan Jerman yang sudah aman di puncak grup.
- Ketidakseimbangan jadwal membuat tim yang bermain lebih awal, seperti Skotlandia, harus menunggu lama untuk mengetahui nasib mereka di peringkat ketiga.

Piala Dunia 2026 memperkenalkan dua perubahan aturan yang secara fundamental mengubah dinamika babak grup: penggunaan head-to-head sebagai tiebreaker utama dan kembalinya sistem peringkat ketiga. Akibatnya, delapan tim sudah dipastikan tersingkir atau lolos setelah dua pertandingan, menimbulkan pertanyaan tentang kualitas kompetitif fase grup.
Dalam sistem baru, tim yang mengumpulkan enam poin dari dua kemenangan langsung tidak bisa lagi dikejar oleh lawan yang memiliki tiga poin, karena head-to-head menjadi penentu. Argentina, misalnya, sudah memastikan posisi puncak Grup J setelah mengalahkan Austria dan Aljazair. Sebaliknya, Yordania yang kalah dari kedua tim tersebut harus angkat koper lebih awal. Jika menggunakan selisih gol, semua tim masih memiliki peluang di pertandingan terakhir.
FIFA mengadopsi format ini untuk mengurangi pengaruh kemenangan besar yang bisa mendistorsi selisih gol, seperti yang diterapkan UEFA di berbagai kompetisinya. Namun, dampaknya justru menciptakan laga 'mati' yang minim gengsi. Pertandingan seperti Amerika Serikat vs Turki dan Argentina vs Yordani menjadi tidak berarti karena satu tim sudah pasti juara grup dan tim lainnya sudah tersingkir.
Kembalinya sistem peringkat ketiga—pertama kali sejak 1994—juga memunculkan ketidakadilan jadwal. Karena ada 12 grup, pertandingan terakhir fase grup berlangsung selama lima hari. Tim yang bermain di akhir pekan akan tahu persis berapa poin yang dibutuhkan untuk lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik. Sebaliknya, tim seperti Skotlandia yang menghadapi Brasil pada Rabu harus bermain tanpa kepastian, hanya mengandalkan perkiraan.
Skotlandia saat ini berada di peringkat ketiga Grup B dengan tiga poin dan selisih gol nol. Jika kalah dari Brasil, mereka harus menunggu hingga Minggu pagi untuk mengetahui apakah masih masuk delapan besar. Situasi ini diperparah oleh jadwal padat: jika lolos, mereka hanya punya waktu 40,5 jam sebelum laga 32 besar melawan Jerman di Boston.
Potensi kolusi juga mengintai. Di Grup J, Aljazair vs Austria—kedua tim sama-sama tiga poin—akan menjadi laga terakhir. Jika hasil imbang menguntungkan keduanya, bukan tidak mungkin terjadi pengaturan skor seperti 'Aib Gijon' 1982, ketika Jerman Barat dan Austria sama-sama lolos setelah kemenangan tipis. Situasi serupa juga muncul di Grup D antara Australia dan Paraguay.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, format baru ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun Timnas Indonesia belum lolos ke Piala Dunia, sistem kompetisi seperti ini dapat diadopsi di turnamen regional ASEAN untuk meningkatkan daya saing. Namun, kekhawatiran tentang integritas pertandingan dan ketidakadilan jadwal harus menjadi catatan bagi penyelenggara.
Ke depan, FIFA perlu mengevaluasi apakah format ini benar-benar meningkatkan kualitas turnamen atau justru mengurangi daya tarik fase grup. Dengan 32 dari 48 tim lolos, esensi 'hidup atau mati' di setiap pertandingan mulai memudar. Pertanyaan besarnya: apakah Piala Dunia 2026 akan dikenang karena inovasi atau justru karena kontroversi?



