Vietnam Dorong Gencatan Senjata di Perbatasan Kamboja-Thailand: Stabilitas Regional Jadi Taruhan
Baca dalam 60 detik
- Vietnam secara resmi mendukung penyelesaian damai sengketa perbatasan Kamboja-Thailand, menekankan pentingnya gencatan senjata dan stabilitas jangka panjang.
- Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan antara komandan pertahanan udara Vietnam dan panglima militer Kamboja, yang juga menyoroti kerja sama militer bilateral.
- Dukungan Vietnam terhadap misi Tim Pengamat ASEAN (AOT) menjadi kunci dalam menjaga perdamaian di kawasan, dengan implikasi bagi dinamika geopolitik Asia Tenggara.

Vietnam secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap upaya gencatan senjata dan penyelesaian damai sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas kawasan yang semakin rapuh akibat ketegangan di perbatasan kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Letnan Jenderal Vu Hong Son, komandan Komando Pertahanan Udara Tentara Rakyat Vietnam, dalam pertemuan dengan Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja (RCAF), Jenderal Vong Pisen, di Markas Besar RCAF, Phnom Penh, pada 22 Juni lalu. Dalam pertemuan itu, Vu Hong Son menegaskan bahwa Vietnam memantau secara ketat perkembangan di perbatasan Kamboja-Thailand dan sepenuhnya mendukung resolusi damai untuk memastikan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Jenderal Vong Pisen menyambut baik sikap Vietnam dan menekankan pentingnya solidaritas antara Vietnam, Kamboja, dan Laos sebagai fondasi pembangunan dan perdamaian regional. “Saling membantu dan menjaga solidaritas di antara Vietnam, Kamboja, dan Laos adalah hal mendasar bagi pembangunan dan perdamaian di kawasan,” ujar Pisen, seperti dikutip dalam pernyataan resmi.
Pertemuan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat hubungan militer bilateral. Pisen mengapresiasi pelatihan yang diberikan Vietnam kepada sejumlah perwira Kamboja, yang dinilai mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan mempererat persahabatan antarangkatan bersenjata. Kedua pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama melalui pertukaran delegasi, pelatihan sumber daya manusia, berbagi informasi, pencegahan kejahatan lintas batas, dan respons bencana.
Salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut adalah ucapan terima kasih Pisen kepada Vietnam atas dukungannya terhadap “gencatan senjata dan pencarian solusi damai untuk masalah perbatasan Kamboja-Thailand”. Vietnam juga telah menugaskan perwiranya untuk berpartisipasi dalam Tim Pengamat ASEAN (AOT), sebuah mekanisme pemantauan gencatan senjata di kawasan. Pisen mendesak Vietnam untuk terus mendukung misi AOT guna memastikan implementasi gencatan senjata dan menjaga perdamaian, stabilitas, serta keamanan di sepanjang perbatasan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi strategis. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas di kawasan Indochina. Konflik perbatasan yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasok dan investasi regional, termasuk kepentingan ekonomi Indonesia di sektor perdagangan dan infrastruktur. Dukungan Vietnam terhadap mekanisme ASEAN seperti AOT juga memperkuat peran sentral organisasi tersebut dalam menyelesaikan sengketa secara damai, sejalan dengan prinsip yang dianut Indonesia.
Kedepannya, efektivitas misi AOT dan komitmen semua pihak untuk menahan diri akan menjadi ujian bagi arsitektur keamanan ASEAN. Akankah dukungan Vietnam cukup untuk meredakan ketegangan, atau justru memicu dinamika baru dalam persaingan pengaruh di kawasan? Pertanyaan ini masih menggantung di tengah upaya diplomasi yang terus berjalan.



