Krisis di Kadokawa: Pemilik 'Elden Ring' Terancam Kudeta Pemegang Saham
Baca dalam 60 detik
- Oasis Management, pemegang saham terbesar Kadokawa dengan 13,76% saham, mendesak pemecatan CEO Takeshi Natsuno dalam RUPS Rabu ini.
- Dua lembaga proxy advisor, ISS dan Glass Lewis, mendukung usulan Oasis karena kinerja keuangan Kadokawa yang buruk pasca kesuksesan 'Elden Ring'.
- Jika Natsuno tetap bertahan, penurunan dukungan signifikan dapat memaksa perubahan strategi, termasuk investasi lebih besar pada judul game utama.

Kadokawa, raksasa hiburan Jepang di balik fenomena game 'Elden Ring', tengah menghadapi pertarungan sengit dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang digelar Rabu ini. Seorang investor aktivis berbasis di Hong Kong, Oasis Management, yang kini memegang 13,76% saham perusahaan, menuntut pemecatan CEO Takeshi Natsuno dengan dukungan dari dua lembaga penasihat proxy terkemuka.
Pertarungan ini menjadi sorotan di kalangan investor Jepang, di mana aksi aktivis semakin sering menuai kemenangan seiring tekanan regulator untuk meningkatkan tata kelola perusahaan dan imbal hasil. Natsuno, yang menjabat sejak 2021, mendapat kritik tajam karena gagal memanfaatkan kesuksesan besar 'Elden Ring'—game kolaborasi sutradara Hidetaka Miyazaki dan penulis George R. R. Martin—yang dirilis pada 2022. Meski game tersebut laris manis, Oasis menuding Natsuno tidak mampu mengoptimalkan pendapatan karena pengaturan penerbitan yang 'bocor' ke pihak ketiga.
Natsuno sendiri bukannya tanpa pendukung. Dewan direksi Kadokawa merekomendasikan pemegang saham untuk mempertahankannya, dengan alasan pemecatan justru akan menimbulkan ketidakpastian di tengah upaya restrukturisasi. Namun, argumen itu tampaknya kurang meyakinkan. Institutional Shareholder Services (ISS) dalam laporannya menyatakan bahwa meskipun mencari pengganti Natsuno membutuhkan waktu, tantangan itu 'layak diterima'. Sementara Glass Lewis juga merekomendasikan pemegang saham untuk menolak proposal re-eleksi dari perusahaan dan mendukung usulan Oasis.
Kinerja keuangan Kadokawa yang suram menjadi pemicu utama. Perusahaan yang juga kuat di bidang manga dan anime ini mencatatkan ROE hanya 0,5% tahun lalu, jauh di bawah rata-rata industri. Seorang pelaku pasar yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa bahkan tanpa usulan Oasis, investor institusional bisa dengan mudah memberikan suara tidak setuju. Jika Natsuno tetap bertahan dengan dukungan yang merosot tajam, tekanan untuk melakukan perubahan—termasuk investasi lebih besar pada judul-judul blockbuster—akan semakin kuat.
Di luar masalah keuangan, Kadokawa juga diguncang berbagai skandal. Perusahaan pernah mengalami kebocoran data akibat serangan ransomware, ditegur Komisi Perdagangan Adil Jepang terkait perlakuan terhadap pekerja lepas, dan mantan ketua Tsuguhiko Kadokawa dihukum karena kasus korupsi terkait Olimpiade. Mantan ketua itu bahkan baru-baru ini menggugat Natsuno secara pribadi, menuntut ganti rugi atas laporan perusahaan yang dianggap merugikan kasusnya.
Kekalahan Natsuno di RUPS ini akan menjadi pukulan telak bagi manajemen Kadokawa, namun kemenangan tipis pun belum tentu menyelesaikan masalah. Dengan meningkatnya jumlah proposal aktivis di Jepang—naik hampir tiga kali lipat dibanding 2024—kasus Kadokawa menjadi ujian bagi resistensi perusahaan terhadap tekanan pemegang saham. Pertanyaannya, akankah Natsuno mampu bertahan dan membalikkan keadaan, atau justru langkah Oasis menjadi awal dari restrukturisasi besar-besaran di Kadokawa?



