Skandal "Bao Guan" di Thailand: Imigrasi Usut Pungutan Liar hingga 10 Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Divisi Imigrasi 2 Thailand membentuk tim investigasi untuk membongkar jaringan broker yang menjamin masuk ke Thailand dengan tarif hingga 12.000 baht.
- Praktik ini muncul setelah pengetatan imigrasi sejak 2025, yang menolak lebih dari 13.000 orang pada 2026 untuk memblokir sindikat penipuan.
- Jika terbukti ada oknum petugas terlibat, mereka akan menghadapi sanksi disiplin dan pidana tanpa toleransi.

Divisi Imigrasi 2 Thailand membentuk tim pencari fakta untuk menyelidiki dugaan jaringan makelar "bao guan" yang memungut biaya hingga sepuluh kali lipat dari tarif normal demi menjamin masuknya warga asing ke Thailand. Praktik ini terungkap setelah media daring memberitakan adanya kelompok perantara asal China yang mengklaim bisa meloloskan orang melalui imigrasi Bandara Suvarnabhumi.
Pol Kolonel Pongthorn Pongratchatanan, wakil komandan Divisi Imigrasi 2, mengonfirmasi bahwa para makelar itu mematok tarif antara 4.500 hingga 12.000 baht per orang, tergantung jenis visa dan tingkat risiko. Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh pengetatan pemeriksaan imigrasi yang mulai diterapkan pada 2025 untuk membendung masuknya sindikat penipuan call center yang beroperasi dari negara tetangga.
Komandan Divisi Imigrasi 2, Pol Mayor Jenderal Kathathorn Khamthiang, telah memerintahkan pembentukan komite penyelidikan secara mendesak. Komite ini bertugas menelusuri asal-usul informasi, pihak-pihak yang terlibat, serta modus komunikasi kelompok yang diduga menyalahgunakan nama pejabat atau instansi pemerintah untuk mencari keuntungan ilegal. Jika hasil investigasi menemukan keterlibatan petugas imigrasi, tindakan tegas berupa sanksi disiplin dan proses pidana akan diambil tanpa pengecualian.
Pengetatan imigrasi ini merupakan arahan langsung dari Komisaris Biro Imigrasi, Pol Letnan Jenderal Phanumart Boonyaluck. Sejak 2025, ia memerintahkan peningkatan skrining di bandara untuk mencegah masuknya pelaku kejahatan transnasional, terutama sindikat call center yang mulai bergeser ke Thailand setelah digempur di negara tetangga. Fokus skrining meliputi penyalahgunaan bebas visa, seperti keluar-masuk terlalu sering (visa run), serta hubungan dengan kelompok kriminal.
Bagi pelancong Indonesia yang hendak ke Thailand, kasus ini menjadi pengingat penting. Imigrasi Thailand menegaskan bahwa wisatawan dengan dokumen lengkap dan tujuan jelas tidak akan mengalami kendala. Namun, mereka yang menggunakan visa tidak sesuai atau memiliki risiko keamanan akan diperiksa ketat. Para makelar disebut-sebut menargetkan pemegang visa Thailand Elite, visa pelajar, dan Destination Thailand Visa (DTV) yang mungkin tidak paham prosedur resmi.
"Orang yang masuk dengan benar, memiliki tujuan jelas, dokumen lengkap, dan tidak terlibat kegiatan ilegal akan mendapat pelayanan normal. Namun, bagi yang menyembunyikan tujuan, menggunakan visa salah, atau menjadi risiko keamanan, petugas harus bertindak tegas untuk melindungi negara dan wisatawan yang taat hukum," ujar Pol Kolonel Pongthorn, mengutip pernyataan resmi Divisi Imigrasi 2.
Ke depan, publik menanti hasil investigasi komite pencari fakta. Apakah praktik "bao guan" ini hanya ulah oknum swasta atau melibatkan aparat? Thailand, yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, harus menjaga keseimbangan antara keamanan dan keramahan terhadap wisatawan. Jika tidak, citra negeri Gajah Putih sebagai destinasi ramah bisa tercoreng oleh ulah segelintir pihak.



