Pencarian Mesin Pertumbuhan Baru: Forum Ekonomi Dunia di Dalian Soroti Inovasi Skala Besar
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 1.700 pemimpin global berkumpul di Dalian, China, untuk membahas inovasi teknologi sebagai motor pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.
- Forum ini menjadi panggung bagi China untuk menunjukkan capaian ekonominya, meski masih dibayangi perlambatan konsumsi domestik dan sektor properti.
- Pembahasan difokuskan pada adopsi AI dan komputasi kuantum, dengan catatan bahwa kebijakan dan kesiapan tenaga kerja menjadi kunci keberhasilan.

Pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) yang dikenal sebagai Summer Davos resmi digelar di Dalian, China, Selasa (23/6), dengan agenda utama mencari pendorong pertumbuhan ekonomi global melalui inovasi teknologi. Lebih dari 1.700 delegasi dari 90 negara, termasuk perwakilan pemerintah, pelaku bisnis, dan akademisi, hadir dalam forum tiga hari ini yang merupakan pertemuan terbesar kedua WEF setelah Davos di Swiss.
Mengusung tema "Innovating at Scale", diskusi difokuskan pada potensi teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum untuk menciptakan momentum ekonomi baru. Neo Gim Huay, Managing Director WEF, menegaskan bahwa dunia telah memasuki era teknologi baru yang didorong oleh kemajuan AI, robotika, dan bioteknologi. Tahun ini, kata dia, upaya difokuskan pada perluasan jangkauan terobosan tersebut untuk membuka kemungkinan baru bagi pertumbuhan jangka panjang. "Kami melihat model bisnis dan operasi baru yang dimungkinkan oleh kemajuan teknologi," ujar Neo. Namun ia mengingatkan bahwa agar hal ini terwujud dalam ekonomi riil, masalah keterampilan dan lapangan kerja harus diatasi, serta kebijakan yang mendukung dan kesediaan investor untuk berinvestasi pada kemungkinan baru.
Mirek Dusek, Managing Director WEF lainnya, menekankan pentingnya menciptakan kondisi yang tepat untuk adopsi teknologi baru di berbagai industri. Para pengambil keputusan, menurutnya, perlu mengembangkan kerangka kerja yang mendukung dan memikirkan dampaknya terhadap masyarakat. "Kami memiliki teknologi luar biasa yang tidak kami miliki 10 atau 15 tahun lalu. Dalam beberapa kasus, teknologi dapat membantu. Tapi pada saat yang sama, kita semua tahu itu bukan obat mujarab," katanya. Dusek juga menyoroti kesadaran di antara negara-negara berdaulat bahwa meskipun ada kepentingan keamanan nasional, perlu dicari cara yang lebih cerdas untuk bekerja sama.
Pertemuan ini berlangsung di tengah latar belakang internasional yang semakin kompleks, mulai dari ketegangan perdagangan hingga ketidakpastian di Timur Tengah. Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun ini menjadi 3,1 persen, dari 3,4 persen pada 2025, didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik. Pertumbuhan diperkirakan pulih moderat menjadi 3,2 persen tahun depan, meskipun fragmentasi perdagangan dan kondisi fiskal yang ketat masih membayangi prospek. Heron Lim, ekonom senior konsultan properti Cushman & Wakefield, menilai bahwa dengan realitas operasional yang bergeser dan konsumen yang menghadapi ketidakpastian tinggi, diskusi harus semakin praktis dan berfokus pada hasil nyata, seperti penataan ulang rantai pasok dan menyeimbangkan kebutuhan energi baru dengan tujuan keberlanjutan.
Bagi China, forum ini menjadi momentum penting di tengah implementasi Rencana Lima Tahun ke-15 yang menempatkan inovasi teknologi sebagai inti strategi pertumbuhan. Gao Weiqi, Deputi Direktur Jenderal Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) bidang kerja sama internasional, menyatakan harapannya agar pertemuan ini dapat memamerkan pencapaian pembangunan ekonomi berkualitas China, menyampaikan komitmen terbuka terhadap kerja sama, dan berbagi peluang besar yang diciptakan oleh modernisasi China. "Pembangunan China yang sehat dan stabil akan menyuntikkan kepastian yang lebih besar dan momentum baru bagi ekonomi dunia," ujarnya. Namun, para pengamat mencatat bahwa prospek ekonomi China masih dibayangi oleh lemahnya konsumsi domestik dan penurunan sektor properti yang berkepanjangan. Diskusi di Dalian diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang arah ekonomi terbesar kedua di dunia ini.
Dusek menambahkan bahwa ada minat global yang kuat terhadap ekosistem inovasi China, termasuk kebijakan dan kemitraan pemerintah-industri yang telah membangun rantai nilai inovasi yang kokoh. Menurutnya, China dan Asia secara lebih luas tidak hanya berada di garis depan penelitian dan pengembangan teknologi baru, tetapi juga memimpin dalam penerapan inovasi di berbagai industri. Bagi Dalian sendiri, forum ini memiliki arti ekonomi yang signifikan. Pejabat setempat mengatakan bahwa menjadi tuan rumah acara ini telah membantu menarik investasi dan meningkatkan profil kota sebagai pusat manufaktur dan inovasi. Mereka menunjuk perusahaan multinasional seperti Volkswagen dan Pfizer yang telah memperluas kehadirannya di sana. Tahun lalu, ekonomi Dalian tumbuh 5,7 persen menjadi lebih dari 1 triliun yuan (US$147 miliar), menjadikannya kota pertama di Tiongkok Timur Laut yang mencapai angka tersebut. Wali Kota Dalian, Li Qiang, berharap dapat memanfaatkan sumber daya global forum ini untuk mengubah terobosan teknologi menjadi keunggulan skala industri, terutama di bidang energi bersih, kimia halus, perkapalan, dan peralatan teknik kelautan, sambil mempromosikan peningkatan industri yang lebih tinggi, lebih pintar, lebih hijau, dan berskala lebih besar.
Ke depan, efektivitas forum ini dalam menjembatani kesenjangan antara inovasi teknologi dan implementasi di lapangan akan menjadi ujian nyata. Akankah para pemimpin global mampu merumuskan kebijakan yang tidak hanya mendorong adopsi teknologi, tetapi juga mengatasi dampak sosial dan ketimpangan yang mungkin timbul? Atau justru fragmentasi geopolitik akan semakin memperlambat laju pertumbuhan yang didambakan?



