Arus Dolar ke Nigeria Anjlok 26%: Bank Sentral Enam Pekan Tak Intervensi
Baca dalam 60 detik
- Tanpa suntikan dolar dari bank sentral selama enam pekan, total inflow valas Nigeria merosot 26% menjadi 689 juta dolar AS.
- Eksportir dan investor portofolio asing kini mendominasi pasokan valas, menggantikan peran bank sentral yang absen.
- Naira tetap stabil di pasar resmi meski tekanan meningkat, didukung cadangan devisa yang naik 1% menjadi 51,04 miliar dolar AS.

Arus masuk dolar Amerika Serikat ke pasar valuta asing Nigeria terkoreksi lebih dari seperempatnya dalam sepekan terakhir, setelah Bank Sentral Nigeria (CBN) memilih untuk tidak menggelontorkan intervensi valas selama enam pekan berturut-turut. Data Coronation Research menunjukkan total inflow hanya mencapai 689 juta dolar AS, turun 26 persen dibanding periode sebelumnya.
Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam struktur pasokan valas di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM). Jika sebelumnya CBN menjadi pemasok utama, kini peran itu diambil alih oleh sektor swasta. Eksportir menyumbang porsi terbesar, yakni 43,3 persen atau setara 298,3 juta dolar AS. Disusul investor portofolio asing (FPI) dengan kontribusi 39,26 persen atau 270,5 juta dolar AS.
Korporasi non-perbankan memasok 14,36 persen (98,9 juta dolar AS), sementara korporasi lainnya hanya 1,87 persen (12,9 juta dolar AS). Sisanya berasal dari sumber lain. Tidak adanya aliran dana dari bank sentral selama enam pekan berturut-turut mengonfirmasi bahwa CBN tengah mengandalkan sumber-sumber otonom untuk menjaga likuiditas pasar.
Dampak terhadap nilai tukar Naira terbilang terbatas. Di jendela NFEM, Naira melemah tipis 0,48 persen secara pekanan ke level 1.370,46 per dolar AS, dari sebelumnya 1.363,83. Pada awal pekan, Naira sempat menguat 0,56 persen ke 1.356,27, namun keuntungan itu tergerus oleh kondisi pasokan yang relatif lemah.
Di pasar paralel, Naira malah mencatat penguatan 0,36 persen ke 1.400 per dolar AS, dari 1.405 pekan sebelumnya. Alhasil, selisih harga (premium) antara pasar resmi dan paralel menyempit menjadi 2,16 persen, turun dari 3,02 persen. Ini menandakan konvergensi harga yang lebih baik antar segmen pasar.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Nigeria justru meningkat 1,05 persen atau setara 529,71 juta dolar AS menjadi 51,04 miliar dolar AS per 18 Juni 2026. Kenaikan ini memberikan bantalan eksternal yang lebih kuat bagi perekonomian Nigeria.
Analis Coronation Research memperkirakan Naira akan tetap stabil dalam jangka pendek, ditopang oleh aliran valas otonom dan portofolio yang solid. Namun, absennya intervensi CBN dalam waktu lama menimbulkan pertanyaan: sejauh mana ketahanan pasar valas Nigeria jika sumber otonom mulai surut? Langkah CBN membuka lelang surat utang negara senilai 1 triliun Naira pada Rabu mendatang akan menjadi ujian selanjutnya bagi likuiditas dan kepercayaan pasar.



