Thomson Reuters Raup Pendapatan USD1,95 Miliar di Kuartal II, Naikkan Proyeksi Tahunan
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Thomson Reuters tumbuh 9% year-on-year menjadi USD1,95 miliar, melampaui ekspektasi analis.
- Perusahaan menaikkan target pertumbuhan organik tahunan menjadi sekitar 8%, didorong segmen legal, korporat, dan pajak.
- Fokus pada AI 'fiduciary-grade' dan divestasi bisnis cetak menjadi strategi utama menghadapi tekanan pasar saham.

Toronto โ Thomson Reuters mencatatkan pendapatan kuartal kedua sebesar USD1,95 miliar, tumbuh 9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini sedikit melampaui perkiraan analis yang mematok USD1,9 miliar. Laba per saham di luar item luar biasa mencapai 99 sen, lebih tinggi dari proyeksi Wall Street sebesar 96 sen. Kinerja ini mendorong perusahaan asal Kanada itu menaikkan proyeksi pertumbuhan organik tahunan menjadi sekitar 8%, dari sebelumnya 7,5%โ8%.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh tiga segmen bisnis terbesar: legal, korporat, serta pajak dan akuntansi. Ketiganya berkontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan yang berbasis di Toronto ini. Namun, di balik angka positif itu, Thomson Reuters menghadapi tantangan besar dari munculnya pemain AI baru seperti Anthropic yang mengancam posisi perusahaan-perusahaan mapan di sektor data dan perangkat lunak profesional. Saham Thomson Reuters tercatat turun 15,28% sejak awal tahun, sementara indeks S&P/TSX Composite justru naik 12,35%.
Untuk merespons tekanan tersebut, Thomson Reuters mengambil langkah strategis dengan menjual 51% bisnis Global Print-nya ke KKR pada Juli lalu. Langkah ini bertujuan untuk memfokuskan perusahaan pada bisnis digital dan pengembangan AI yang dapat diverifikasi dan diaudit, atau yang mereka sebut sebagai 'fiduciary-grade AI'. Selain itu, perusahaan berencana meluncurkan model bahasa besar (LLM) proprietary yang dilatih dengan konten dari Westlaw, Practical Law, Checkpoint, dan Reuters. Layanan ini akan mulai ditawarkan kepada klien pada musim panas ini.
CEO Steve Hasker menegaskan bahwa prioritas perusahaan pada paruh kedua tahun ini adalah memperdalam kepemimpinan dalam solusi AI fiduciary-grade yang tepercaya. "Kami fokus pada AI yang menghasilkan hasil yang dapat diverifikasi dan diaudit," ujarnya dalam pernyataan resmi. Ini menjadi pembeda utama di tengah maraknya AI generatif yang seringkali tidak transparan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dengan meningkatnya adopsi AI di sektor hukum, pajak, dan korporasi. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang bergantung pada data legal dan kepatuhan dapat memanfaatkan teknologi serupa untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi. Namun, perlu diingat bahwa ketergantungan pada AI juga membawa risiko, terutama jika model tidak dilatih dengan data lokal yang memadai. Regulator di Indonesia perlu memperhatikan aspek keandalan dan auditabilitas AI, sebagaimana yang ditekankan Thomson Reuters.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Thomson Reuters mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah persaingan ketat dari pemain AI murni. Dengan divestasi bisnis cetak dan fokus pada AI, perusahaan ini tampaknya berjudi pada masa depan yang didominasi teknologi. Namun, apakah langkah ini cukup untuk meyakinkan investor yang masih skeptis? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi sinyal dari kuartal ini menunjukkan bahwa transformasi sedang berjalan.



