Abu Vulkanik Lumpuhkan Penerbangan di Flores: Dua Bandara Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok memaksa penutupan Bandara Frans Seda Maumere dan Gewayantana Larantuka sejak 20 Juni 2026.
- Penutupan ini menghentikan seluruh jadwal penerbangan, termasuk rute Wings Air ke Kupang dan Makassar, tanpa kepastian kapan dibuka kembali.
- PVMBG menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki ke Siaga (Level III) dan mengimbau radius aman 5 km dari puncak kedua gunung.

Dua bandara utama di Flores, Nusa Tenggara Timur, terpaksa menghentikan operasionalnya setelah erupsi simultan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok mengirimkan abu vulkanik ke jalur penerbangan. Penutupan ini, yang berlaku sejak Sabtu (20/6/2026), memutus akses udara ke wilayah timur Indonesia dan berdampak langsung pada ribuan penumpang.
Bandara Frans Seda Maumere menjadi yang pertama ditutup efektif mulai Sabtu hingga Minggu pukul 06.00 WITA. Kepala Bandara, Partahian Panjaitan, mengonfirmasi bahwa seluruh jadwal penerbangan pada hari itu dibatalkan. Maskapai Wings Air terpaksa menangguhkan rute Maumere-Kupang, Kupang-Maumere, Makassar-Maumere, dan sebaliknya. "Penutupan ini mengikuti perkembangan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama," ujarnya. Sebelumnya, bandara yang sama juga sempat ditutup pada Rabu hingga Kamis pekan ini akibat lontaran abu dari gunung yang sama.
Sementara itu, Bandara Gewayantana Larantuka telah lebih dulu ditutup sejak Kamis lalu. Kepala Bandara Puguh Lukito menyatakan status resmi bandara adalah "Aerodrome Closed" tanpa jadwal pembukaan kembali. Penutupan ini dipicu oleh erupsi Gunung Ile Lewotolok yang mulai aktif pada 18 Juni 2026, serta dampak abu dari Lewotobi Laki-laki. Penumpang diminta terus memantau informasi resmi dari maskapai masing-masing.
Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Ile Lewotolok menyemburkan kolom abu setinggi 300 meter berwarna putih hingga kelabu yang bergerak ke arah barat. Statusnya berada di Level II (Waspada). Sebaliknya, Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki status lebih tinggi, yaitu Level III (Siaga), dengan aktivitas erupsi yang terus berlangsung. PVMBG mengimbau masyarakat tidak mendekati area dalam radius 5 kilometer dari puncak kedua gunung dan waspada terhadap risiko lahar hujan jika terjadi hujan deras di sekitar lereng.
Penutupan bandara di Flores ini bukanlah yang pertama. Wilayah NTT yang berada di kawasan Ring of Fire memang kerap menghadapi gangguan penerbangan akibat abu vulkanik. Namun, erupsi simultan dua gunung dalam waktu berdekatan memperparah dampaknya. Bagi warga Flores, ketergantungan pada transportasi udara membuat situasi ini krusial, terutama untuk distribusi logistik dan mobilitas warga. Belum ada kepastian kapan bandara akan beroperasi normal kembali; semuanya bergantung pada perkembangan aktivitas vulkanik. Pertanyaan besarnya: akankah aktivitas kedua gunung ini mereda dalam waktu dekat, atau justru meningkat?



