Walter Parazaider, Pendiri Band Chicago yang Gagas Orkestrasi Horn Rock, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Walter Parazaider, saksofonis dan pendiri Chicago, meninggal di usia 81 tahun setelah enam tahun melawan Alzheimer.
- Ia adalah otak di balik penggunaan horn section dalam musik rock, yang menjadi ciri khas band legendaris tersebut.
- Kepergiannya meninggalkan warisan puluhan lagu ikonik dan pengaruh besar pada industri musik global.

Walter Parazaider, musisi yang menjadi salah satu pendiri band rock Chicago dan dikenal sebagai penggagas penggunaan alat tiup dalam musik rock, meninggal dunia pada Rabu (17/6) pukul 02.10 waktu setempat di usia 81 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di sebuah hospice, dikelilingi sang istri, JacLynn, setelah berjuang melawan Alzheimer selama enam tahun.
Parazaider bersama Terry Kath dan Danny Seraphine membentuk inti awal band yang pertama kali bernama The Big Thing, lalu berganti menjadi Chicago Transit Authority, dan akhirnya disingkat menjadi Chicago pada 1969. Gagasannya untuk memasukkan horn section—saksofon, trompet, trombon—ke dalam formasi rock menjadi terobosan yang membedakan Chicago dari band-band sezamannya. Tanpa visi itu, mustahil lagu-lagu seperti 25 or 6 to 4, If You Leave Me Now, dan Hard to Say I'm Sorry memiliki warna orkestrasi yang khas.
Kabar duka ini diumumkan oleh pihak band melalui akun Instagram resmi Chicago. Dalam pernyataannya, mereka menyebut Parazaider sebagai sosok yang tidak hanya mempersatukan personel, tetapi juga bekerja keras mencari manggung di bar-bar lokal Chicago saat band masih belum dikenal. "Mungkin musik luar biasa ini tidak akan pernah terdengar jika bukan karena visi Walt," tulis manajemen Chicago.
JacLynn, istri yang telah mendampingi selama 59 tahun, mengungkapkan kepada TMZ bahwa suaminya bertahan dengan gigih melawan Alzheimer. "Dia berjuang keras, dan sayangnya, malam ini berakhir. Kami pasti akan sangat merindukannya," ujarnya. Pasangan ini dikaruniai dua putri, Laura dan Felicia.
Felicia, dalam unggahan emosional di Facebook, mengaku tidak sempat pulang sebelum ayahnya berpulang. "Ayahku, pahlawanku, telah pergi. Dia pergi dengan damai sekitar 20 menit lalu. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi perjuangan. Aku tahu bahwa pada akhirnya hanya ibu dan ayah yang bersama—seperti awal dulu. Aku bersyukur ayah tidak lagi menderita," tulisnya.
Mantan drummer Chicago Tris Imboden, yang bergabung dari 1990 hingga 2018, mengenang Parazaider sebagai "sahabat dan saudara" yang sangat berharga. "Bersama Terry Kath dan Danny Seraphine, Walt membentuk inti yang kemudian menjadi band Chicago. Saya merasa terhormat bisa mengenalnya dan berbagi panggung di seluruh dunia," tulis Imboden di media sosial.
Bagi pencinta musik di Indonesia, warisan Parazaider tidak asing. Lagu-lagu Chicago seperti Hard to Say I'm Sorry dan You're the Inspiration sering diputar di stasiun radio era 80-an dan 90-an, serta menjadi favorit di acara-acara nostalgia. Gaya bermain saksofonnya yang melodius turut memengaruhi musisi tanah air seperti pemain saksofon jazz senior, meski pengaruh langsungnya lebih terasa di ranah musik pop dan rock Barat.
Kepergian Parazaider menutup satu babak penting dalam sejarah musik rock. Namun, pertanyaan yang tersisa: Akankah generasi musisi masa depan masih terinspirasi oleh formula horn rock yang ia rintis, atau justru akan mencari terobosan baru yang sama beraninya?



