Pocketpair Tolak AI Generatif untuk Palworld: Gamer Tidak Menginginkannya
Baca dalam 60 detik
- Pocketpair, pengembang Palworld, memutuskan tidak akan menggunakan AI generatif dalam pengembangan game karena dianggap tidak diinginkan oleh komunitas gamer.
- Keputusan ini menempatkan Pocketpair berseberangan dengan sejumlah studio besar yang mulai mengadopsi AI untuk efisiensi, namun tetap sejalan dengan resistensi dari platform seperti Steam.
- Langkah ini bisa menjadi sinyal bagi industri game global, termasuk pasar Indonesia, bahwa preferensi pemain tetap menjadi prioritas utama di tengah hiruk-pikuk teknologi AI.

Pengembang game Palworld, Pocketpair, secara tegas menolak penggunaan kecerdasan buatan generatif (generative AI) dalam proyek-proyek mereka. Keputusan ini diambil bukan karena keterbatasan teknis, melainkan karena permintaan langsung dari para pemain yang menolak teknologi tersebut.
Dalam wawancara dengan GamesRadar+, John Buckley, kepala komunikasi Pocketpair, menyatakan bahwa tim pengembang tidak akan menggunakan generative AI karena para gamer tidak menginginkannya. โGamer tidak menginginkannya, dan jika gamer tidak menginginkannya, ya sudah, bukan? Tidak banyak yang perlu diperdebatkan,โ ujarnya. Buckley juga meragukan keberlanjutan tren AI generatif, menyebutnya sebagai gelembung yang mungkin akan segera pecah.
Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan sengit di industri game global mengenai adopsi AI. Beberapa studio besar seperti Electronic Arts dan Ubisoft telah mulai mengintegrasikan AI untuk mempercepat produksi aset game, sementara yang lain, termasuk Pocketpair, memilih jalur sebaliknya. Menariknya, platform distribusi game Steam juga mulai membatasi penggunaan konten buatan AI, menunjukkan adanya resistensi dari ekosistem game secara luas.
Bagi industri game di Indonesia, keputusan Pocketpair bisa menjadi pelajaran berharga. Pasar game Indonesia yang besar dan didominasi oleh pemain muda sering kali menjadi barometer tren global. Jika pemain di Indonesia juga menunjukkan resistensi terhadap AI generatif, bukan tidak mungkin pengembang lokal akan mengikuti jejak Pocketpair. Saat ini, beberapa studio game Indonesia masih dalam tahap eksplorasi AI, namun belum ada keputusan resmi untuk mengadopsinya secara massal.
Menurut analis game dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Pratama, keputusan Pocketpair mencerminkan bahwa preferensi pemain tetap menjadi faktor penentu utama di industri kreatif. โAI generatif mungkin menawarkan efisiensi, tetapi jika pemain menolaknya, studio harus mendengarkan. Ini adalah pelajaran bahwa teknologi bukanlah segalanya,โ ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa resistensi terhadap AI bisa menjadi strategi diferensiasi bagi studio kecil untuk menarik basis penggemar yang loyal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tren penolakan AI ini akan bertahan lama atau hanya sekadar fase. Dengan semakin banyaknya studio yang mencoba AI, sementara pemain dan platform seperti Steam mulai membatasi penggunaannya, industri game berada di persimpangan jalan. Pocketpair telah memilih jalannya sendiri, dan kini tinggal menunggu apakah pilihan itu akan menjadi standar baru atau justru pengecualian.



