Kesepakatan AS-Iran Mulai Berlaku: Jendela 60 Hari Negosiasi Nuklir Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi masa negosiasi 60 hari dengan Iran dimulai 18 Juni, berakhir 16 Agustus.
- Kesepakatan sementara mencakup penghentian blokade maritim AS di pelabuhan Iran dan peningkatan lalu lintas minyak di Selat Hormuz.
- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memberikan persetujuan dengan syarat, menekankan negosiasi tatap muka bukan berarti menerima semua tuntutan AS.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengumumkan bahwa jendela 60 hari untuk negosiasi damai antara Washington dan Tehran telah resmi dimulai pada 18 Juni, membuka peluang bagi perjanjian final yang dapat mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Dalam pernyataannya kepada wartawan, Vance menegaskan bahwa negosiasi teknis terkait program nuklir Iran dapat dimulai akhir pekan ini, meskipun ia mengakui belum ada kepastian mengenai lokasi pertemuan di Swiss atau jadwal perjalanannya.
Kesepakatan sementara yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu malam mencakup 14 poin, termasuk penghentian operasi militer dan pencabutan blokade laut AS di sekitar pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Komando Pusat Militer AS mengonfirmasi bahwa semua upaya penegakan blokade telah dihentikan, meskipun kapal angkatan laut AS tetap berada di area tersebut untuk memantau kepatuhan terhadap perjanjian.
Peningkatan signifikan lalu lintas minyak di Selat Hormuz, yang mencapai 12,5 juta barel dalam satu malam, menandai rekor tertinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari. Hal ini menunjukkan bahwa pencabutan blokade telah memulihkan sebagian aktivitas ekonomi vital di kawasan tersebut. Bagi Indonesia, stabilitas Selat Hormuz sangat krusial karena jalur ini memasok sekitar 60% kebutuhan minyak impor nasional. Setiap gangguan di titik ini berpotensi langsung mempengaruhi harga bahan bakar dan inflasi di dalam negeri.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya setelah penandatanganan, menyetujui kesepakatan tersebut dengan catatan. Melalui kantor berita Tasnim, Khamenei mengungkapkan bahwa ia pada prinsipnya memiliki pandangan berbeda, namun memberikan izin karena komitmen pejabat senior Iran untuk melindungi hak-hak rakyat. Ia memperingatkan bahwa Tehran tidak akan menerima tuntutan AS yang dianggap berlebihan, dan menegaskan bahwa negosiasi tatap muka yang akan datang bukan berarti menerima sudut pandang musuh.
Pernyataan Khamenei mencerminkan dinamika internal Iran yang kompleks, di mana faksi konservatif masih skeptis terhadap negosiasi dengan AS. Namun, tekanan ekonomi akibat sanksi dan serangan militer tampaknya mendorong Tehran untuk mencari jalan keluar. Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan secercah harapan akan penurunan harga minyak global, meskipun masih ada ketidakpastian mengenai hasil akhir negosiasi.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari, mengingat perbedaan mendasar mengenai program nuklir Iran dan tuntutan AS. Jika negosiasi gagal, konflik dapat kembali memanas, mengancam pasokan energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh.



